Bogor24Update – Bank Sampah Bersih Istiqomah mengembangkan produksi minuman fermentasi kombucha dan fruit enzyme yang memiliki bahan baku serta proses pembuatan berbeda.
Ketua Bank Sampah Istiqomah, Nurita Eryani mengatakan, kombucha dan fruit enzyme merupakan dua jenis minuman fermentasi yang berbeda.
“Alhamdulillah selama ini saya memproduksi dua-duanya dan saya bersyukur saya dapat tim Bu Anita yang sama-sama bersinergi dengan saya,” ujar Nurita.
Ia menjelaskan, untuk pembuatan kombucha menggunakan bahan baku berupa air, teh, gula pasir, starter kit dan bakteri baik atau SCOBY. Sedangkan fruit enzyme dibuat dari madu dan daging buah-buahan.
“Dari kombucha ini bahan bakunya sebetulnya dari bakteri. Kalau fruit enzyme bahan bakunya dari madu dengan daging buah-buahan. Jadi dua jenis yang berbeda, tapi untuk diminumnya itu bisa bersamaan waktunya,” jelasnya.
Untuk konsumsi, fruit enzyme dapat diminum dengan takaran sekitar satu sendok teh yang dicampurkan ke dalam 250 mililiter air. Sementara untuk kombucha, takaran konsumsi dapat berbeda tergantung jenis produknya.
Namun, ia menyarankan minimal 100 mililiter sekali minum sampai dengan maksimal 225 mililiter minum kombucha dalam sehari.
Saat ini, Bank Sampah Bersih Istiqomah yang berada di Jalan Pelita Jaya, RT 03 RW 08, Kelurahan Kedung Jaya, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, memproduksi sembilan macam jenis minuman fermentasi.
Harga yang ditawarkan pun beragam, tergantung jenis dan kemasan. Untuk kombucha original, misalnya, dibanderol sekitar Rp105 ribu per liter dalam kemasan botol kaca.
“Tapi untuk pembelian kedua bisa menukar botol tersebut dengan harga Rp90 ribu,” imbuh Nurita.
Selain itu, kata ia, Bank Sampah Bersih Istiqomah juga menyediakan paket starter kit untuk masyarakat yang ingin membuat kombucha sendiri di rumah. Paket tersebut dilengkapi dengan starter, SCOBY, toples, serta air yang dibutuhkan untuk memulai proses fermentasi.
“Dulu kami menjual dalam bentuk plastik, tapi ternyata customer mengaku susah untuk membeli toplesnya. Makanya kami siapkan starter kit langsung dengan toplesnya. Mereka bisa langsung mulai dan bisa langsung dinikmati,” jelasnya.
Proses fermentasi kombucha membutuhkan waktu sekitar 14 hari untuk menghasilkan rasa yang lebih asam.
Sementara bagi konsumen yang menginginkan rasa lebih manis, kombucha dapat dipanen lebih cepat, yakni sekitar tujuh hari, tergantung proses dan selera.
Sedangkan untuk fruit enzyme, ia menyebut membutuhkan waktu fermentasi yang jauh lebih lama. Menurutnya, lamanya proses tersebut turut memengaruhi harga jual yang relatif lebih tinggi
“Untuk Fruits enzyme proses pembuatannya agak lama, jadi harganya agak mahal,” pungkas Nurita. (*)






















