Bogor24Update – Aroma tepung dan mie segar menguar setiap pagi dari sebuah tempat sederhana di Jalan Gardu Tinggi RT 05/RW 07 , Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.
Dari sinilah Mie Lie, salah satu produsen mie tertua di Bogor dan mempertahankan tradisi turun-temurun sejak tahun 1937.
Ci Mira, generasi ketiga yang kini mengelola produksi harian Mie Lie menyebut usaha ini awalnya dirintis oleh kakeknya.
Sang kakek merantau dari Moyan (Meisien), Tiongkok, ke Bekasi sebelum akhirnya menetap di Bogor.
“Menurut saudara sepupu saya, di Tiongkok, kakek sama sekali tidak membuat mie. Mungkin di sini coba-coba saja untuk mencari nafkah,” ujar Ci Mira saat ditemui Bogor24Update, Minggu 22 November 2025.
Ci Mira tetap menjaga kualitas produksi mie segar hingga saat ini. Semua proses dikerjakan manual, dari menguleni adonan hingga membentuk helaian mie.
“Kelihatannya gampang, padahal capek. Harus pakai tenaga, kalau enggak nanti hasilnya kurang bagus,” katanya.
Meski menggunakan timbangan, kata Ci Mira, racikan akhir tetap mengandalkan feeling.
“Saya sudah tahu dari pegang adonannya, kurang air atau kebanyakan, ” jelasnya.
Produk yang dihasilkan antara lain mie untuk mie ayam (dua varian), pangsit goreng, pangsit rebus, dan kulit dimsum.
“Dulu juga membuat mi kuning non-telur seperti yang dijual di pasar, namun produksi itu dihentikan tiga tahun terakhir, ” ungkap Ci Mira.
Lebih lanjut ia menjelaskan, Ciri khas Mie Lie adalah hanya memproduksi mie berdasarkan pesanan.
“Jadi dari zaman papa saya, bikin itu sesuai order. Enggak mau disimpan lama-lama. Kita jual yang fresh,” jelas Ci Mira.
Katanya, pelanggan datang dari berbagai daerah, mulai dari warga Bogor, kafe, restoran, hingga pemesanan luar kota. Pesanan masuk lewat WhatsApp atau datang langsung ke rumah produksi. Pesanan pun tidak menentu.
“Kadang mendadak. Kalau saya masih buka, ya saya kerjakan. Yang penting sabar nunggu. Sekarang kondisi ekonomi susah diprediksi. Kadang hari slow, kadang mendadak ramai,” ujarnya
Satu hal yang unik dari Mie Lie adalah kemasannya. Hingga kini, kulit pangsit dan dimsum dibungkus menggunakan daun pisang dan diikat tali bambu.
“Dari papa saya begitu. Menurut beliau, plastik itu panas. Sementara mie kita enggak pakai bahan pengawet. Daun itu adem, bisa menjaga kelembaban,” tutur Ci Mira.
Menurutnya, meski penggunaan daun seringkali merepotkan, terutama saat musim hujan ketika daun mudah pecah, ia tetap mempertahankan tradisi.
“Sejak papa meninggal tahun 2014, saya enggak pernah ganti ke plastik, ” ungkap Ci Mira.
Ci Mira mulai berproduksi sejak sekitar pukul 06.30–07.00 pagi, dan libur setiap hari Jumat. Libur ini baru diterapkan setelah generasi ayahnya wafat.
“Papa dulu enggak pernah libur. Orang zaman dulu kerja terus. Tapi saya mengikuti karyawan yang mau Jumatan,” tuturnya.
Meski di tengah persaingan produk mie modern dan instan, Mie Lie Ci Mira tetap membuktikan bahwa kualitas, kesegaran, dan resep keluarga bisa menjadi kekuatan tersendiri yang bisa membuat pelanggan terus kembali ke Mie Lie.(*)






















