Bogor24Update – Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LH) Diaz Hendropriyono menghadiri Science Day 2026 yang digelar Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor di Eco-Technopark dan Aula UIKA Bogor, Rabu, 30 September 2026.
Diaz Hendropriyono mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai menunjukkan pentingnya peran komunitas dan perguruan tinggi dalam mencari solusi terhadap persoalan sampah.
“Saya rasa ini acara yang sangat-sangat baik. Bahwasanya permasalahan sampah saat ini penyelesaiannya itu tidak akan selesai tanpa adanya pelibatan dari masyarakat,” kata Diaz.
Kegiatan berbasis komunitas, menurut Diaz, perlu terus didorong untuk menangani persoalan sampah sejak dari hulu. Sebab, berbagai teknologi pengolahan sampah tidak akan dapat berjalan optimal tanpa didukung sistem pemilahan yang baik.
“Teknologi apa pun, inovasi apa pun yang kita punya, mulai dari PSEL, RDF, atau SRF, atau pirolisis, atau bahkan recycling apa pun juga, sampah-sampah plastik, itu tidak akan berjalan tanpa adanya pemilahan yang baik di hulu,” ucapnya.
Oleh karena itu, kata ia, untuk memastikan bahwa teknologi dan inovasi yang di kembangkan ini bisa berjalan dengan baik, harus diikuti dahulu dengan pemilahan yang baik.
“Saya juga sudah titip pesan kepada Pak Rektor dan kawan-kawan juga yang hadir untuk memulai dan memperkuat lagi pemilahan sampah di hulu,” katanya.
Diaz juga mengapresiasi berbagai inovasi yang ditampilkan Universitas Ibn Khaldun. Salah satunya adalah mesin pemilahan sampah yang dinilai dapat membantu proses pemilahan sebelum sampah diproses lebih lanjut.
“Jadi ini sangat-sangat membantu untuk pemilahan di hulu ini. Nah, setelah dipilah barulah bisa diproses lebih lanjut yang ini jadi apa, yang itu jadi apa,” tuturnya.
Untuk yang botol PET juga sudah bisa diproses. Menurut dia, sampah botol PET yang telah dipilah, dicuci, dan dicacah dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan ketika masih berupa botol bekas.
“Kalau yang tadinya mungkin per kilo hanya Rp6.000, setelah diproses dengan baik, dicuci lalu dicacah, itu bisa mungkin harganya value-nya bisa dua kali lipat atau bahkan lebih,” terangnya.
Menurutnya, peningkatan nilai tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, perguruan tinggi, maupun mahasiswa.
“Dan lagi-lagi tidak akan terjadi kalau tidak dipilah. Jadi semua teknologi yang kita lihat di sini itu ujung-ujungnya pemilahan,” jelasnya.
Selain itu, lebih lanjut Diaz mengatakan, ada juga pemrosesan gaharu yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak wangi.
“Saya rasa universitas ini punya potensi untuk menjadi supplier parfum-parfum gaharu. Jadi nanti jangan kaget kalau ternyata kawan-kawan beli parfum di mall atau bahkan di luar negeri, ternyata bahan bakunya bisa dari pemrosesan gaharu dari Universitas Ibn Khaldun. Saya rasa hal-hal positif seperti ini, KLH siap mendorong,” pungkasnya. (*)





















