Bogor24Update – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mulai memperkuat kebiasaan memilah sampah dari rumah sebagai bagian dari persiapan menuju sistem pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PSEL.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan, pembangunan fasilitas pengolahan sampah harus dibarengi perubahan perilaku masyarakat.
Menurutnya, persoalan itu tidak cukup diselesaikan setelah sampah terkumpul, tetapi harus ditangani sejak dari sumber.
“Jadi sampah itu selain menjadi tanggung jawab, tetapi juga punya peluang untuk dikelola dengan baik. Nah, kemudian nanti menimbulkan namanya circular economy,” ujar Dedie saat menghadiri World Cleanup Day tingkat Kota Bogor di halaman parkir Museum PETA, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah, Minggu 4 Oktober 2026.
Pemkot Bogor, kata Dedie, tengah menyiapkan sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Di sisi hilir, pemerintah menargetkan dua fasilitas PSEL, yakni Bogor Raya 1 dan Bogor Raya 2, mulai beroperasi pada 2028.
Namun, sebelum fasilitas tersebut beroperasi, masyarakat diminta membiasakan diri memilah sampah berdasarkan jenisnya sejak dari rumah.
“Sebelum PSEL jadi, maka gaya hidup harus berubah. Kalau semua sampah masih disatukan dalam satu kendaraan atau dalam satu tempat, maka nanti truk yang akan mengangkut mungkin akan terhambat di jalan karena ada kepentingan dari pemulung dan sebagainya. Nah, kami ingin yang namanya pemilahan itu di awal saja, di hulunya,” bebernya
Dedie menilai, pemilahan sampah juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Sampah yang telah dipisahkan dapat dikumpulkan dan diolah kembali menjadi bahan baku berbagai produk.
“Dikumpulkan, kemudian di-recycle menjadi bahan baru untuk diproduksi, baik bisa untuk botol, untuk segala macam, sehingga kemudian tidak lagi menambah sampah-sampah baru yang bisa merugikan lingkungan,” kata Dedie.
Untuk membangun kebiasaan tersebut, Pemkot Bogor memperluas edukasi melalui berbagai saluran, mulai dari tatap muka, talkshow, podcast, kampanye hingga media massa.
Dedie juga meminta seluruh perangkat daerah hingga kelurahan ikut berperan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Menurutnya, gerakan pengelolaan sampah di Kota Bogor mulai menunjukkan perkembangan. Hal itu terlihat dari meningkatnya aktivitas TPS3R, bank sampah serta pelaku usaha di sektor pengelolaan sampah.
“Jadi memang ini harus menjadi suatu gerakan besar, dan insyaAllah Bogor gerakannya akan terus kami kuatkan supaya pada saat nanti PSEL 1 Bogor Raya dan PSEL 2 Bogor Raya jalan, masyarakat semakin juga punya tingkat kesadaran yang tinggi dalam memilah sampahnya di rumah,” jelas Dedie Rachim.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor Rudy Mashudi mengatakan, peringatan World Cleanup Day tahun ini digelar dengan menggandeng kegiatan Car Free Day (CFD).
Menurut Rudy, kegiatan tersebut semestinya dilaksanakan pada akhir September 2026 sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup. Namun, pelaksanaannya disesuaikan karena DLH masih berkonsentrasi menangani kondisi di TPPAS Galuga akibat kebakaran.
“Oleh karena itu, kegiatan tetap kami lakukan dan kami juga kolaborasikan dengan kegiatan Car Free Day (CFD) yang dilaksanakan setiap hari Minggu di Kota Bogor,” terangnya.
Rudy mengatakan, World Cleanup Day tahun ini juga menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam gerakan kebersihan lingkungan. Di Kota Bogor, kegiatan tersebut mengusung tema “Aksi Bersih Pemuda-Pemudi, Merdeka dari Sampah”.
Sejumlah organisasi kepemudaan seperti KNPI dan Karang Taruna turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
“Gerakan ini akan terus dilakukan, terus fokus dan sosialisasi terkait dengan pilah-pilih sampah dari sumber. Karena secara transisi akan mempersiapkan hal yang besar di Kota Bogor, yang tadi disampaikan oleh Wali Kota Bogor terkait dengan PSEL yang mulai akan beroperasi di 2028,” katanya.(*)






















