Bogor24Update – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor bersama Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas) menggelar lokakarya di Aula Gedung PSC 119 Lantai 2, Dinas Kesehatan Kota Bogor.
Kegiatan yang direncanakan akan berlangsung selama dua hari tersebut dilakukan sebagai upaya memperkuat sistem kesiapsiagaan menghadapi penyakit zoonotik, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Ketua Pokja Risk Communication and Community Engagement (RCCE) Risky Ka Safitri, mengatakan tujuan diadakan kegiatan ini adalah bagian dari kesiapsiagaan Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi penyakit-penyakit zoonotik yang menular dari hewan ke manusia yang berpotensi menjadi wabah.
“Karena kesiapsiagaan ini perlu dilakukan secepat mungkin sebelum ada kasus, sebelum kasus merebak. Tujuan utamanya agar masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan, bagaimana mencegah penularan, ke mana harus berobat dan di mana bisa mendapatkan vaksin,” ujar Risky, Selasa, 7 Juli 2026.
Ia menjelaskan, penyakit zoonotik dari hewan ke manusia itu ada beberapa jenis, yaitu flu burung, antraks, leptospirosis, dan rabies.
Sedangkan leptospirosis, ia menyebut, umumnya saat musim hujan karena ditularkan melalui air seni tikus.
“Penularan penyakit-penyakit ini berasal dari hewan yang ada di sekitar kita. Jadi tujuannya kesiapsiagaan, kita bersiap sebelum ada kasus atau sebelum ada kejadian,” katanya.
Risky menegaskan pentingnya sistem kesiapsiagaan sejak dini. Karena ia menilai, wabah biasanya ditandai dengan penularan yang berlangsung cepat dan terjadi secara bersamaan sehingga tanpa persiapan yang matang, penanganan akan terlambat.
“Kalau kita tidak punya sistem untuk bersiap, ketika ada kejadian semua biasanya gagap dan kemudian terlambat. Karena itu, sistem harus disiapkan sehingga ketika ada kasus merebak, semua sektor dan ekosistem sudah siap,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga telah menyiapkan berbagai kanal informasi, mulai dari situs web ICCI, microsite, hingga aplikasi yang dapat digunakan masyarakat untuk memeriksa kebenaran informasi atau membedakan berita hoaks.
“Ini bisa dipakai buat publik cekhoax.id,” kata Risky.
Lokakarya tersebut diselenggarakan oleh Dinkes dengan dukungan Portkesmas yang merupakan bagian dari Kelompok Kerja (Pokja) Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat (RCCE).
Ia menjelaskan bahwa kelompok kerja tersebut telah terbentuk sejak masa pandemi COVID-19.
“Jadi kita sudah punya pengalaman bagaimana menangani wabah dan pandemi,” bebernya.
Risky menambahkan, pengawasan juga dilakukan pada sektor peternakan. Oleh karena itu peternak diwajibkan melaporkan apabila terjadi kematian hewan secara mendadak dalam jumlah besar.
“Selain peternaknya lapor, biasanya dari bidang Keswan melakukan monitoring secara berkala. Karena itu adalah kejadian di mana investigasi akan dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian, agar tidak menyebar ke tempat yang lainnya,” pungkasnya. (*)





















