Bogor24Update – Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Bogor, mendalami peristiwa matinya ribuan ikan di Situ Citongtut, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor.
Setelah sampel air diambil Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kini Diskanak menemukan titik awal matinya ikan.
Ketua Tim Pengawasan Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap Diskanak Kabupaten Bogor, Yayan Buduayana mengatakan, peristiwa itu bermula saat adanya air yang masuk ke tempat tersebut melalui saluran pemasukan (Inlet) yang tiba-tiba berubah warna menjadi kuning berminyak dan bau, pada Kamis malam, 22 Januari 2026.
Kemudian pada Jumat, 23 Januari 2026, sambungnya, sejumlah ikan mulai muncul di atas permukaan dengan kondisi lemas atau mabuk, serta mati.
“Pada Sabtu, 24 Januari 2026 ini terjadi kematian massal di Situ Citongtut dengan kondisi terapung,” ujar Yayan kepada Bogor24update, Selasa 27 Januari 2026.
Dari hasil pemeriksaan dan evakuasi, kata Yayan, total ada enam ribu ekor ikan liar dan ikan nila merah peliharaan komunitas Gerakan Pungut Sampah (GPS) mati.
Ribuan ekor ikan yang mati itu didominasi oleh ikan sapu-sapu hampir 80 persen, nila, sepat, belut, dan nila merah milik komunitas GPS yang ada di keramba jaring apung.
“5 ribu ekor ikan liar mati yang kemudian dievakuasi ke dalam 38 karung dengan berat mencapai satu ton, sedangkan ikan nila yang mati mencapai seribu ekor dengan ukuran 8-12 cm per ekor,” ucapnya.
Usai dievakuasi, ribuan ekor ikan itu lalu dikuburkan ke sekitaran Situ Citongtut.
“Diduga yang menjadi penyebab kematian ikan adalah adanya perubahan lingkungan perairan yang ekstrem, bukan karena penyakit ikan,” tuturnya.
Yayan menjelaskan, berdasarkan informasi yang didapatnya, ada 23 lebih perusahaan di hulu saluran inlet sebelum air masuk ke Situ Citongtut.
“Kegiatan industri yang dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut seperti pembuatan lem, parfum, air minum dalam kemasan, dan chemical, besi atau baja, keramik, dan farmasi,” jelasnya.(*)






















