Bogor24Update – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus menunjukkan komitmen dalam upaya pengentasan hingga zero stunting.
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menegaskan penanganan stunting ke depan akan dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor.
“Kita istiqomah ikhtiar memerangi stunting di Kota Bogor,” ujar Jenal usai menghadiri kick off bantuan intervensi stunting bersama Gain Indonesia dan Rumah Zakat di Kantor Kecamatan Bogor Selatan, Selasa, 3 Februari 2026.
Jenal yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting, mengatakan berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan angka stunting di Kota Bogor.
“Salah satu bentuk nyata dukungan datang dari para ASN yang secara sukarela setiap bulan menyisihkan sebagian penghasilannya, dengan nominal bervariasi mulai dari Rp50 ribu hingga Rp250 ribu,” ujarnya.
Selain itu, kontribusi dari para donatur dan perusahaan, baik lokal maupun internasional, juga terus datang melalui program CSR yang difokuskan pada pemenuhan gizi dan pemulihan anak-anak stunting, khususnya balita di bawah usia tiga tahun.
“Kebetulan pagi ini sasarannya di Bogor Selatan bantuan dari Rumah Zakat yang kemarin meloloskan kasus stunting di Bogor Utara sebanyak 18 anak,” tambahnya.
Melalui kolaborasi Rumah Zakat dan Gain Indonesia, sebanyak 71 anak stunting di Kecamatan Bogor Selatan mendapatkan bantuan berupa 5 kilogram beras dan 4 kilogram telur setiap bulan.
“Itu selama enam bulan berturut-turut, sejumlah 71 anak. Karena total anak stunting di Bogor Selatan 203 anak, sisanya di intervensi oleh sukarela dari ASN yang memang selama ini memberikan bantuan,” jelasnya.
Selain itu, Pemkot Bogor juga meluncurkan aplikasi Besti. Aplikasi ini memungkinkan para donatur memantau perkembangan anak-anak stunting yang mereka bantu setiap bulan.
“Jadi donatur bisa mengecek perkembangan anak-anak yang dibantu setiap bulan, melalui akun masing-masing. Foto dan laporan perkembangan diunggah oleh tim pendamping keluarga serta Tim Percepatan Penanganan Stunting tingkat kecamatan,” ujarnya.
Jenal menegaskan bahwa pihaknya terbuka untuk penanganan stunting di Kota Bogor dengan melibatkan dan berkolaborasi bersama semua stakeholder.
Angka stunting di Kota Bogor menunjukkan tren penurunan, dari 1.588 kasus pada tahun lalu menjadi 1.491 kasus saat ini. Ia pun optimistis dengan konsistensi dan dukungan berbagai pihak, Kota Bogor dapat mencapai target zero stunting.
“Kalau kondisinya seperti ini , para pihak-pihak yang datang dengan sendirinya peduli terhadap anak-anak stunting mereka dengan sukarela memberikan CSR-nya melalui Bapperida, yang itu secara mekanisme tentu TJSL diatur secara resmi,” katanya.
Ia menerangkan, Kecamatan Bogor Selatan memang menjadi wilayah dengan jumlah kasus paling banyak, yakni 203 anak, seiring dengan luas wilayah dan jumlah penduduk yang besar. Namun, angka tersebut tidak terpaut jauh dengan Kecamatan Bogor Barat.
“Insyaallah, kita terus berikhtiar memerangi stunting hingga zero di Kota Bogor,” kata Jenal memungkas. (*)






















