Bogor24Update – Kajian agama di alam yang digagas Kampoong Ecopreneur melalui kegiatan bertajuk “Sejenak, Kita Pulang, Intimate Camp & MHJA Online” mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Jumlah peminat yang membludak membuat panitia harus menerapkan sistem waiting list untuk pelaksanaan batch berikutnya.
Ketua Panitia Sejenak, Kita Pulang, Intimate Camp, Zulfikar Abdurrahman, mengatakan kegiatan yang digelar pada 11–12 September 2026 tersebut diikuti peserta dari berbagai daerah.
“Karena peserta membludak, panitia terpaksa membuat waiting list untuk batch berikutnya,” kata Zulfikar, Minggu 13 September 2026.
Ia menjelaskan, peserta yang mengikuti kegiatan kali ini dibatasi sebanyak 39 orang karena keterbatasan tempat. Bahkan, sejumlah peserta telah mendaftarkan diri untuk mengikuti kajian pada batch berikutnya.
“Bahkan ada yang sudah mendaftar untuk kajian batch berikutnya. Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk Jambi, Jember, dan Indramayu,” ujarnya.
Pendiri Yayasan Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, menuturkan kegiatan tersebut menjadi terobosan baru dalam pelaksanaan kajian Mengasah Hati Bersama Jamil Azzaini (MHJA), yang selama ini digelar secara daring melalui Zoom dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 1.000 orang.
Menurut Jamil, kajian kali ini dikemas secara hybrid, yakni daring dan luring. Peserta yang hadir secara langsung mengikuti retret berupa kegiatan kemping bersama sejak Jumat malam hingga Sabtu siang di kawasan Kampoong Ecopreneur, Leuwisadeng, Kabupaten Bogor.
Selain kajian agama, peserta juga mengikuti kegiatan journaling atau menulis refleksi untuk melakukan muhasabah dan menenangkan diri, serta sesi Quranic Healing sebagai upaya penyembuhan hati melalui Al-Qur’an.
“Ternyata jamaah sangat antusias menyambut kajian di alam ini,” ujar Jamil.
Dalam kegiatan tersebut, para ustaz dan ustazah yang hadir, yakni Jamil Azzaini, Sofie Beatrix, serta Ustaz Aris Ahmad Jaya, juga mendapat banyak pertanyaan dari peserta.
Selama satu malam, peserta menginap di tenda sembari mengikuti rangkaian kajian, menulis refleksi, dan bermuhasabah. Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk mengambil jeda dari kesibukan sehari-hari, menata kembali arah hidup, sekaligus mempererat hubungan dengan sesama anggota komunitas.
Kajian perdana bertajuk “Sejenak, Kita Pulang” dimulai pada Jumat malam dengan materi yang disampaikan Ustaz Aris Ahmad Jaya. Ia mengajak peserta memperbaiki hubungan sebagai bagian dari ikhtiar menjemput rezeki.
“Rezeki akan mendekat bila kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah, hubungan kita dengan orang tua, dan hubungan kita dengan sesama,” kata Aris.
Ia juga mengingatkan peserta agar memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat dikendalikan, termasuk respons terhadap perlakuan orang lain. Menurutnya, membalas keburukan dengan kebaikan menjadi salah satu cara menjaga kehidupan tetap positif.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi Quranic Journaling Healing bersama Ketua Yayasan Kampoong Ecopreneur, Sofie Beatrix. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memejamkan mata dan memikirkan persoalan berat yang sedang dihadapi.
Setelah itu, peserta diminta membuka Al-Qur’an, menunjuk satu ayat secara acak, kemudian membaca dan merenungkannya. Sofie mengajak jamaah kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Pada Sabtu pagi, Jamil Azzaini membawakan kajian bertajuk “The Art of Surrender, Sejenak Kita Pulang”. Di hadapan peserta yang hadir langsung maupun mengikuti secara daring, ia menjelaskan perbedaan antara berserah diri dan kehilangan harapan.
“Give up itu artinya berhenti karena kehilangan harapan,” katanya.
Sementara itu, berserah diri, menurut Jamil, berarti tetap berusaha mencari jalan terbaik tanpa memaksakan kehidupan berjalan sesuai dengan kehendak manusia.
Retret tersebut dirancang menjadi kegiatan berkelanjutan bagi komunitas MHJA. Kelebihan infak peserta akan digunakan untuk mendukung operasional Tahfidz Ecopreneur. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Kampoong Ecopreneur menghimpun donasi sebesar Rp45 miliar dalam kurun waktu dua tahun.
Salah satu peserta, Aisyah, warga Bogor berusia 80 tahun, mengaku senang dapat mengikuti retret tersebut.
“Karena di acara ini kita diajak untuk tak pernah berhenti belajar,” ujarnya.
Peserta lainnya, Asep Sutisna, juga mengaku mendapatkan pengalaman berkesan dari kegiatan tersebut.
“Bagus banget acaranya. Kita perlu berhenti sejenak dari semua hiruk pikuk aktivitas untuk kembali ke diri ke sesama dan ke Allah,” kata Tisna.
Hal senada disampaikan Sri Sukmawati, seorang dosen yang datang dari Jember. Ia mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari pelaksanaan perdana kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah saya beruntung ikut acara pertama ini, banyak insight yang didapat,” ujarnya.(*)




















