Bogor24Update – Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor mengumumkan lahirnya seekor bayi panda raksasa pertama di Indonesia.
Pengumuman bersejarah itu dihadiri langsung Menteri Kehutanan Republik Indonesia (Menhut RI), Raja Juli Antoni, serta perwakilan Pemerintah China di Istana Panda Taman Safari Bogor, Cisarua, Selasa 6 Januari 2026.
Menhut RI, Raja Juli Antoni mengaku terkesan dengan kinerja jajaran TSI Bogor yang telah merawat bayi panda raksasa itu sejak dilahirkan pada Kamis, 27 November 2025, pukul 17.00 WIB.
“Bayi panda ini diberi nama Satrio Wiratama oleh Presiden Prabowo Subianto yang artinya ksatria pemberani, mulia, dan berbudi. Nama yang sangat baik,” ujar Raja kepada wartawan.
Menurut Raja, pengumuman yang dilakukan pada hari ke-40 lahirnya bayi panda tersebut sangat sejalan dengan tradisi di Indonesia.
“Ini adalah hari ke-40, tradisi di Indonesia adalah hari yang baik karena biasanya ada perayaan kelahiran maupun kematian pada hari ke-40. Jadi, hari ini kita berbahagia,” ucapnya.

Raja menyebut, kelahiran bayi panda perdana di TSI Bogor itu merupakan sejarah bagi Indonesia.
Musabab, berbagai usaha telah dilakukan oleh pihak TSI Bogor untuk melahirkan bayi panda tersebut, salah satunya dengan empat kali percobaan perkawinan secara normal.
“Pada akhirnya diputuskan memanfaatkan Assisted Reproductive Technology (ART) untuk bisa lahirnya bayi panda ini,” tuturnya.
Dengan lahirnya bayi panda tersebut, Raja berharap bisa memperkuat diplomasi antara Indonesia dengan China.
Mengingat, tambah dia, dua ekor panda raksasa yang ada di TSI Bogor itu merupakan kiriman dari China pada 2017 lalu sebagai program kerja sama konservasi.
“Ini tidak hanya soal satwa, tapi juga memperkuat hubungan diplomasi antara Indonesia dengan China. Semoga upaya ini bisa kita lanjutkan pada masa yang akan datang,” bebernya.
Sementara itu, Co-Founder TSI Group, Jansen Manansang mengaku bersyukur telah lahirnya bayi panda untuk pertama kalinya di Indonesia.
“Lahirnya bayi panda yang pertama di Indonesia ini menjadi salah satu simbol keberhasilan dari konservasi di Indonesia,” kata Jansen.
Jansen berharap, hadirnya bayi panda yang lahir di Indonesia itu bisa berdampak positif terhadap upaya konservasi yang dilakukan antara Indonesia dan China.
“Capaian ini menegaskan tidak hanya komitmen Indonesia untuk berkontribusi aktif dalam konservasi panda raksasa dunia, tetapi juga keberhasilan TSI dalam pendekatan konservasi berbasis sains, disiplin ilmiah jangka panjang, dan standar kesejahteraan satwa berkelas global,” pungkasnya.(*)






















