Bogor24Update – Serangan jantung adalah salah satu jenis penyakit jantung koroner dan masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia.
Untuk itu, sangat penting untuk mengenali tanda-tanda serangan jantung dan melakukan skrining secara rutin. Namun, seberapa sering harus melakukan skrining?
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Eka Hospital Cibubur, dr. Yislam Aljaidi, Sp. JP, FIHA, menjelaskan serangan jantung adalah kondisi ketika aliran darah menuju jantung berkurang drastis atau berhenti sama sekali akibat sumbatan di pembuluh darah.
Sumbatan ini terjadi karena plak yang terbuat dari lemak dan kolesterol menumpuk selama bertahun-tahun di dinding pembuluh darah. Saat plak terlepas, gumpalan darah bisa terbentuk.
“Gumpalan darah inilah yang nantinya dapat menyumbat pembuluh darah menuju jantung,” ujar dr. Yislam, Rabu, 11 Februari 2026.
Ia menambahkan, penyumbatan pembuluh darah jantung dapat terjadi sebagian, sehingga mengurangi aliran darah ataupun sepenuhnya, menghentikan aliran darah sama sekali.
“Saat aliran darah yang mengandung oksigen ke jantung berkurang atau berhenti sama sekali, otot jantung akan mulai mengalami kerusakan dan akhirnya mati,” jelasnya.
Gejala Serangan Jantung
dr. Yislam mengatakan, umumnya, risiko serangan jantung akan meningkat tinggi pada orang yang mengalami aterosklerosis, yakni yang memiliki plak di pembuluh darahnya.
“Sayangnya, aterosklerosis pada awalnya tidak menunjukkan gejala yang nyata. Di sisi lain, saat seseorang mengalami serangan jantung, kita berlomba dengan waktu untuk memberikan pertolongan pertama,” katanya.
Ia memaparkan ada beberapa tanda serangan jantung yang perlu diwaspadai, di antaranya nyeri dada seperti ditekan atau diberi beban berat. Rasa tidak nyaman atau nyeri yang menjalar ke area bahu, lengan, punggung, leher, hingga rahang.
Kemudian, keringat dingin, kelelahan ekstrem, rasa nyeri di ulu hati (terutama jika ruang jantung bagian bawah yang terdampak), pusing tiba-tiba atau bahkan pingsan, mual, dan sesak napas.
Selain itu, orang yang mengalami serangan jantung terkadang keliru mengartikan nyeri yang muncul, terutama di punggung sebagai pegal linu sehingga terlambat ditangani. Jika nyeri tersebut tidak hilang atau membaik setelah melakukan pengobatan rumahan ini perlu waspada.
Menurutnya, pada wanita, gejala serangan jantung mungkin akan sedikit berbeda. Alih-alih nyeri, tanda serangan jantung pada wanita umumnya seperti rasa berat dan tertindih di dada.
Penyebab Serangan Jantung
dr. Yislam mengatakan, penyakit jantung koroner adalah penyebab utama serangan jantung. Kondisi ini terjadi ketika plak yang menempel di pembuluh darah terlepas dan menyumbat aliran darah menuju jantung.
“Saat jantung tidak mendapatkan aliran darah (atau berkurang), saat inilah seseorang mengalami serangan jantung,” ujarnya.
Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang dalam mengalami serangan jantung, yaitu berusia di atas 45 tahun untuk laki-laki dan 55 tahun untuk wanita, merokok, memiliki tekanan darah tinggi, serta memiliki kadar kolesterol dan trigliserida yang tinggi.
Selain itu, obesitas, diabetes, memiliki sindrom metabolik, riwayat serangan jantung dalam keluarga, jarang berolahraga, mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, gula, dan garam, hipertensi hingga stres.
Pentingnya Skrining Jantung untuk Deteksi Dini
dr. Yislam menjelaskan, sebelum berkembang menjadi penyakit jantung koroner, sebenarnya tubuh sudah memberikan tanda-tanda, seperti hipertensi atau kadar kolesterol yang tinggi.
“Sayangnya, sering kali kondisi ini tidak memberikan gejala-gejala pada tahap awal. Banyak orang mengetahuinya saat kondisinya lebih buruk,” katanya.
Oleh sebab itu, imbuh dr. Yislam, melakukan skrining penyakit jantung menjadi penting dalam deteksi dini dan pencegahan serangan jantung.
Ada beberapa jenis skrining jantung yang umumnya direkomendasikan dokter, antara lain pemeriksaan darah.
“Pemeriksaan darah dapat dilakukan secara rutin untuk menilai risiko penyakit jantung. Sebab, kondisi darah Anda sangat berhubungan dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah,” jelasnya.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan, yaitu kadar kolesterol, kadar gula darah, tes darah lengkap, fungsi ginjal, dan fungsi hati.
Selanjutnya, elektrokardiogram (EKG). EKG adalah pemeriksaan untuk merekam aktivitas listrik jantung. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan ada tidaknya gangguan irama jantung atau tidak.
Pemeriksaan EKG juga biasanya dapat dilakukan bersamaan dengan penggunaan treadmill atau sepeda statis (stress-test). “Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai kelistrikan jantung saat beraktivitas,” kata dr. Yislam.
Jenis skrining jantung lainnya, Echocardiogram, atau echo jantung, alias USG jantung adalah tindakan USG untuk mendapatkan gambaran ukuran dan bentuk jantung. Pemeriksaan ini juga dapat melihat kondisi katup jantung dan aliran darah di jantung.
Kemudian, CT scan jantung. Ia menjelaskan, CT scan bertujuan untuk mendapatkan gambaran jantung secara lebih detail. Dengan CT scan jantung, dokter dapat melihat kondisi pembuluh darah besar dan jaringan yang mengelilinginya.
Selain CT scan, dr. Yislam mengatakan, MRI jantung juga menghasilkan gambaran jantung yang lebih jelas.
Terakhir, calcium score jantung. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak endapan kalsium di pembuluh darah. Dengan kata lain, pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa risiko penyakit jantung koroner yang jadi salah sayu sebab serangan jantung.
Ia menambahkan, setiap jenis pemeriksaan dalam skrining jantung mungkin membutuhkan frekuensi pemeriksaan yang berbeda-beda, tergantung dari usia dan faktor risiko yang Anda miliki.
“Beberapa mungkin perlu dilakukan 1 tahun sekali begitu menginjak usia 20, beberapa lain mungkin bisa dimulai ketika sudah berusia di atas 35 tahun atau bahkan 45 tahun,” urainya.
Untuk mengetahui kapan waktu yang tepat dan seberapa sering harus melakukan skrining, cobalah untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung, terutama jika Anda memiliki faktor risiko serangan jantung.
Anda bisa berkonsultasi ke dr. Yislam Aljaidi, Sp. JP, FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Eka Hospital Cibubur untuk mendapatkan saran medis terbaik. (*)






















