Bogor24Update – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Barat menggelar kegiatan Ritme Demokrasi di Kota Bogor. Acara yang berlangsung di Ruang Paseban Sri Baduga, Balaikota Bogor ini diikuti ratusan peserta, khususnya kalangan generasi muda.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Aspem Kesra) Setda Kota Bogor, Eko Prabowo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan inisiasi dari Bakesbangpol Provinsi Jawa Barat yang dilaksanakan di Kota Bogor.
“Ini adalah acara ke lima dalam bentuk kegiatan Ritme Demokrasi,” kata Eko Prabowo kepada wartawan, Jumat, 17 April 2026.
Menurut ia, kegiatan ini merupakan langkah positif dalam mendorong proses demokratisasi, terutama dalam meningkatkan partisipasi pemilih pemula.
Oleh karena itu, hal menjadi penting keterlibatan generasi Z dalam menentukan masa depan bangsa melalui keikutsertaan dalam pesta demokrasi.
“Kesadaran mereka digugah melalui inisiasi berbagai narasumber yang akan disampaikan dalam kegiatan Ritme Demokrasi ini,” ujarnya.
Kepala Bidang Politik Dalam Negeri (Poldagri) Bakesbangpol Provinsi Jawa Barat, Ruliadi, menjelaskan pihaknya mengadakan kegiatan pendidikan politik yang direncanakan berlangsung di 31 titik di 27 kota dan kabupaten di Jawa Barat.
“Kita ingin menumbuhkan atau meningkatkan literasi politik anak-anak muda. Karena tadi kita liat data di pilkada 2024, misalnya itu tingkat partisipasi pemilih di Jawa Barat hanya 68 persen dari kurang lebih 36 juta suara,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, kata Ruliadi, menjadi tantangan dalam pengembangan kehidupan demokrasi khususnya di Jawa Barat dan komposisinya itu ternyata yang paling banyak pemilih berasal dari generasi muda.
“Kalau kita lihat data 36 juta pemilih itu sekitar 53 persennya adalah anak muda. Namun, yang hadir ke TPS baru sekitar 68 persen. Artinya, masih ada jutaan pemilih yang tidak hadir, ya itu komposisinya terbesarnya pasti dari anak muda,” jelasnya.
Menurut Ruliyadi bahwa banyak hal yang membuat rendahnya partisipasi tersebut. Sebagaian anak muda masih berfikir apatis soal politik. Mereka menganggap politik itu kotor dan hanya urusan orang tua.
“Kebanyakan juga mereka memang belum sepenuhnya sadar bahwa politik itu kemudian nanti berhubungan dengan dirinya. Padahal, setiap keputusan politik kebijakan itu pasti akan berdampak pada dirinya,” ucapnya.
“Oleh karena itu, kita tingkatkan literasinya, bagaimana menggunakan media sosial yang baik untuk mem filter hoaxnya,” tambah Ruliadi.
Ia menambahkan, dalam kegiatan ini juga, hadir dari Kementerian Pertahanan yang akan memberikan pemahaman kepada peserta tentang hak konstitusional.
“Hari ini juga ada kementerian Pertahanan dan nanti peserta diberikan kesadaran tentang hak konstitusional,” pungkasnya. (*)




















