Sukabumi24update – Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama di Sukabumi Jawa Barat diduga jadi korban perundungan dan penganiayaan oleh kakak kelasnya. Akibat kejadian itu korban mengalami luka serius pada tulang pinggul dan pembengkakan pada lutut sehingga alami kelumpuhan.
Ari Irawan harus terbaring lemah dan mengeluh kesakitan di Ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Sekarwangi Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi. Pelajar kelas tujuh SMP PGRI 2 Nagrak ini diduga menjadi korban perundungan dan penganiayaan yang dilakukan oleh sejumlah kakak kelasnya di lingkungan sekolah. Akibat aksi kekerasan itu korban tidak bisa berjalan lantaran mengalami cedera serius pada bagian pinggul serta pergeseran pada tulang lutut hingga mengakibatkan pembengkakan bahkan korban alami lumpuh.
Pendamping UPTD DP3A Kabupaten Sukabumi Arum Rumiyati mengatakan pihaknya telah mendatangi sekolah untuk mencari informasi dan pihak sekolah membenarkan adanya kekerasan tersebut.”Terjadi kekerasan di lingkungan sekolah, saya cari informasi kita berkunjung ke sekolah tersebut, dan pihak sekolah membenarkan adanya kekerasan tersebut. Menurut keterangan anak itu saat mau shalat terjadi bercanda menurut keterangan sekolah yang berlebihan sehingga korban cedera serius. Kalau keterangan sekolah tidak ada bully tapi bercanda,” ujar Arum Rumiyati,
Pendamping UPTD DP3A Kabupaten Sukabumi, Rabu (21/10/2026).Ia menambahkan pengakuan korban ada yang sama ada yang tidak. Korban setelah dilakukan pertemuan mengaku pernah dipalak oleh pelaku sebanyak tiga kali. Langkah selanjutnya pihaknya akan fokus mendampingi korban untuk pengobatan. Pihak Rumah Sakit Sekarwangi mengatakan korban harus menjalani operasi akibat luka yang dideritanya. Korban kekerasan tak bisa di klaim dengan menggunakan kartu BPJS. Keterbatasan biaya membuat korban harus menunggu.
Humas RSUD Sekarwangi Irman Firmansyah Saputra mengatakan tindakan selanjutnya akan ada operasi setelah ronsen adanya infeksi luka dalam sehingga korban tidak bisa jalan.”Tindakan selanjutnya akan ada operasi setelah ronsen adanya infeksi luka dalam sehingga korban tidak bisa jalan, dirawat selama lima hari kemudian katrol sehingga dibawa langsung ke IGD kondisi sekarang masih menunggu tindak lanjut dokter, secara fisik korban tidak bisa jalan,” ujar Irman Firmansyah Saputra,
Sementara pihak sekolah membantah adanya perundungan di lingkungan sekolahnya. Pihak sekolah menyebut ini merupakan candaan yang lumrah dilakukan para pelajar. Akibat aksinya sejumlah pelaku perundungan dipanggil dan dimintai keterangan pihak Polisi Polres Sukabumi. Guru BP SMP PGRI 2 Nagrak Ki Ochet mengatakan pihaknya beranggapan bukan bullying, hanya main biasa hanya mungkin kelepasan.”Sebenarnya beranggapan bukan bullying ketika bermusyawarah hanya main biasa hanya mungkin kelepasan, ini takdir kecelakaan mau bilang apa, pihak sekolah langsung tanggap terhadap kejadian itu. Saat kejadian dia masih sekolah hari kelima dia gak sekolah karena gak ada informasi, dari pihak sekolah dibawa oleh sekolah ke puskesmas lalu ke IGD, pihak sekolah membantu anak tersebut dari mulai pendaftaran hingga pemeriksaan dokter,” ujar Ki Ochet, Guru BP SMP PGRI 2 Nagrak.
Kekerasan itu diduga dipicu pemalakan yang dilakukan sejumlah kakak kelas kepada korban. Korban telah tiga kali dimintai uang oleh para pelaku secara paksa sebesar dua ribu rupiah. Penganiayaan terjadi setelah korban menolak permintaan uang untuk yang ketiga kalinya. Karena ditolak korban mendapatkan kekerasan dari para pelaku. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Sukabumi.
Penulis: Tim Sukabumi24update
Editor: Redaksi Sukabumi24update





















