Bogor24Update – Berawal dari hobi mengisi waktu luang setelah pensiun, lima perempuan asal Bogor Selatan kini menjadikan keterampilan merajut sebagai sumber penghasilan.
Melalui usaha kreatif bernama Indina Crochet, mereka memproduksi beragam kerajinan rajut secara mandiri dari rumah masing-masing. Para perajin tersebut rata-rata berusia sekitar 50 tahun.
Perwakilan Indina Crochet, Riris (55), mengatakan usaha tersebut berawal dari kesamaan hobi mereka yang kemudian dikembangkan menjadi produk bernilai jual.
“Kami satu tim sama-sama suka merajut. Jadi ini hasil karya dari kami. Kami semua memang hobi merajut,” ujar Riris saat ditemui di booth Indina Crochet dalam Festival Kopi Legendaris Bogor di kawasan Sempur, Kota Bogor, Minggu 23 Agustus 2026.
Menurut Riris, kegiatan merajut semakin ditekuni setelah mereka memasuki masa pensiun. Dari yang semula hanya untuk mengisi waktu luang di rumah, hasil karya mereka ternyata mendapat respons positif dari masyarakat.
“Jadi Setelah pensiun, kami di rumah dan mempunyai hobi merajut. Ternyata hasilnya baik dan banyak yang suka, jadi kami lanjutkan sebagai mata pencaharian yang dapat menghasilkan,” ucap Riris.
Ia menjelaskan, seluruh anggota Indina Crochet belajar merajut secara otodidak dan tidak pernah mengikuti kursus khusus.
Produk yang dihasilkan pun cukup beragam, mulai dari gantungan kunci, dompet, tas, hingga kerajinan berukuran besar. Harganya disesuaikan dengan jenis, ukuran, dan tingkat kesulitan pembuatannya.
“Untuk gantungan kunci, harganya dibanderol mulai sekitar Rp15 ribu hingga Rp25 ribu. Sementara dompet dan tas berada di kisaran Rp40 ribu sampai Rp70 ribu. Produk berukuran besar dapat mencapai harga Rp500 ribu,” jelasnya.
Dalam proses produksi, Indina Crochet menggunakan berbagai jenis benang yang disesuaikan dengan produk yang dibuat.
“Kalau gantungan kunci pakainya benang katun milk, sedangkan untul tas biasanya pakai benang jenis poly thick, Poly small sampai Poly kilap,” katanya.
Untuk pemasaran, produk Indina Crochet saat ini dipasarkan secara daring melalui media sosial. Mereka juga rutin mengikuti bazar untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk secara langsung kepada masyarakat.
Riris menuturkan, waktu pembuatan setiap produk berbeda-beda. Produk berukuran kecil dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat, sedangkan pembuatan tas dapat membutuhkan waktu hingga satu bulan.
“Kita bisa membuat custom juga, tetapi custom itu membutuhkan waktu untuk mengerjakannya. Kalau yang kecil biasanya cepat, tapi kalau tas bisa sampai sebulan,” terangnya.
Untuk pesanan custom, lama pengerjaan juga bergantung pada ketersediaan bahan. Jika benang yang dibutuhkan tersedia, proses produksi dapat dilakukan lebih cepat. Namun, apabila stok tidak tersedia, mereka harus terlebih dahulu membeli benang sesuai permintaan pelanggan.
Bagi Riris dan rekan-rekannya, merajut bukan sekadar aktivitas untuk menghasilkan uang. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana melepas penat sekaligus menjaga semangat untuk terus berkarya setelah memasuki masa pensiun.
“Kami sangat enjoy karena merajut ini mengisi waktu luang dan ternyata bisa menghasilkan. Kami jadi bersemangat berkreasi untuk membuat yang lebih bagus lagi,” tuturnya.
Ia menambahkan, merajut juga menjadi aktivitas yang membuat mereka merasa lebih rileks setelah menjalani berbagai kegiatan sehari-hari.
“Merajut itu buat kami semua jadi refreshing. Pada saat kami capek, larinya ke merajut, karena setelah merajut bisa happy lagi,” pungkasnya.(*)




















