Cianjur24Update – Pemerintah Kabupaten Cianjur menyiapkan opsi relokasi bagi warga yang terdampak bencana tanah longsor di Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Langkah tersebut menyusul bencana longsor yang terjadi di sejumlah desa pada Selasa, 3 Februari 2026.
Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian menegaskan, keselamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah daerah, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
“Kemungkinan kalo daerah di situ rawan terjadi longsoran berulang dan tidak aman untuk ditempati akan direlokasi tapi tunggu hasil kajian,” tegas Wahyu, Kamis, 5 Februari 2026.
Bencana tanah longsor dilaporkan terjadi di Desa Campakawarna, Sukasirna, Cibanggala, Campakamulya, dan Sukabungah.
Dari sejumlah lokasi tersebut, Desa Campakawarna menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Hasil pendataan aparat setempat mencatat sebanyak 13 bangunan terdampak longsor.
Delapan bangunan mengalami rusak berat, terdiri atas lima rumah warga, satu mushola, satu madrasah, serta satu unit penggilingan padi. Sementara lima bangunan lainnya mengalami kerusakan ringan.
Selain itu, sebanyak empat kepala keluarga dengan total 16 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang dinilai lebih aman.
Sementara 65 rumah warga lainnya berada di zona rawan dan berpotensi terdampak apabila longsor kembali terjadi.
Camat Campakamulya Acep Sopiandi mengatakan, kerusakan bangunan tersebar di beberapa desa, namun konsentrasi dampak terbesar berada di Desa Campakawarna.
“Desa Campakawarna menjadi wilayah dengan jumlah kerusakan terbanyak dan kondisi paling parah,” ujar Acep.
Saat ini, Pemkab Cianjur juga memfokuskan penanganan pada pembersihan material longsor yang menutup akses jalan desa dan kabupaten dengan menggunakan alat berat.
Langkah tersebut dilakukan untuk memulihkan aktivitas warga serta memperlancar penyaluran bantuan ke wilayah terdampak. (*)






















