Cianjur24Update – Di tengah komitmen pemerintah mendorong transisi energi bersih, proyek panas bumi di kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, diklaim berjalan dengan mengedepankan aspek keselamatan dan perlindungan lingkungan di area kaki Gunung Gede Pangrango.
PT Daya Mas Geopatra Pangrango (DMGP) menyebut pengembangan geothermal tersebut dilaksanakan berbasis kajian ilmiah, kepatuhan terhadap regulasi, serta koordinasi berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan.
Head of Corporate Communications PT DMGP, Marissa Anugrah, mengatakan seluruh tahapan operasional dirancang untuk meminimalkan dampak terhadap ekosistem lokal.
“DMGP memastikan setiap tahapan operasional mengedepankan aspek keselamatan kerja dan perlindungan ekosistem lokal,” ujar Marissa.
Ia menuturkan, proyek panas bumi Cipanas merupakan penugasan pemerintah melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 2778 K/30/MEM/2014.
Seluruh proses perizinan disebut telah dipenuhi, termasuk komunikasi berkelanjutan dengan pemerintah desa, BPD, dan tokoh masyarakat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
Secara potensi, lapangan panas bumi Cipanas diperkirakan mampu menghasilkan energi hingga 125 megawatt (MW).
Adapun tahap eksplorasi awal dilakukan di lahan sekitar 11 hektare atau kurang lebih 0,02 persen dari total kawasan konservasi di kaki Gunung Gede Pangrango.
Humas PT DMGP, Imron Rosyadi, menambahkan bahwa standar teknis dan sosial menjadi perhatian utama perusahaan.
Ia menyebut setiap tahapan kegiatan, mulai dari mobilisasi peralatan hingga pemantauan getaran, dilakukan dengan pengawasan ketat dan koordinasi bersama pihak terkait.
“Kami memastikan operasional tidak mengganggu aktivitas warga maupun produktivitas lahan pertanian di sekitar lokasi,” katanya.
Dari kalangan akademisi, pakar geologi Universitas Padjadjaran, Dr. Ir. Dewi Gentana, MM, menyatakan bahwa risiko geologi dalam pemanfaatan panas bumi relatif rendah.
Menurutnya, penerapan sistem reinjeksi berfungsi menjaga kestabilan tekanan di bawah permukaan tanah.
“Teknologi closed loop membuat operasional panas bumi tidak mengganggu kestabilan gunung api,” ujarnya.
Senada, pakar vulkanologi Unpad, Prof. Dr. Ir. Nana Sulaksana, MSP, menjelaskan bahwa uap panas bumi diambil dari kedalaman ribuan meter dan terpisah dari sumber air tanah dangkal milik warga karena adanya lapisan batuan kedap air.
Secara keseluruhan, DMGP menegaskan proyek geothermal Cipanas menjadi bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional menuju energi baru terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. (*)





















