Bogor24Update – Resah karena kerap terjadi aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) hanya dalam hitungan detik membuat dua pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Kota Bogor yaitu Muhammad Rizky dari jurusan Otomotif dan Rizky Aris Setiawan dari jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) berkolaborasi menciptakan inovasi sistem keamanan sepeda motor cerdas berbasis RFID dan modul LoRa HC-12.
Karya inovatif kedua pelajar tersebut sukses menarik perhatian pengunjung saat dipamerkan dalam festival Bogor Innovation Award (BIA) 2026 di Gedung Startup Center IPB University Taman Kencana, Kelurahan Babakan, Kecamatan Bogor Tengah.
Sistem keamanan mandiri ini dirancang dengan mekanisme autentikasi ketat yang terhubung langsung kepada remote pemilik motor.
Muhammad Rizky menjelaskan, cara kerja alat ini sangat efektif untuk menunda aksi pencurian motor. Dimana ketika kunci kontak diaktifkan paksa oleh orang tidak dikenal, mesin motor dipastikan tidak akan bisa menyala.
“Apabila tidak melakukan identifikasi (tap RFID), maka selama 8 detik sirinenya akan berbunyi, baik itu sirine yang ada di motor maupun di alat penerima (remote) bawaan pemilik,” kata Rizky, Rabu, 9 September 2026.
Lanjutnya, inovasi ini mengandalkan mikrokontroler Arduino Uno yang digabungkan dengan modul pemancar dan penerima LoRa HC-12, sensor khusus, serta komponen buzzer.
Ia menyebut, untuk jangkauan sinyal peringatan dari kendaraan ke remote penerima saat ini mampu mencapai jarak radius puluhan meter.
“Untuk jaraknya, saat ini masih di kisaran 60 meter. Untuk pengembangan selanjutnya, mungkin jangkauannya bisa dibuat lebih jauh lagi dengan menggunakan sistem IoT (Internet of Things),” ucapnya.
Rizky mengungkapkan, ide awal membuat sistem keamanan ini karena keresahan para pelajar terhadap kejahatan jalanan yang semakin nekat dan gesit.
“Awalnya itu karena kita melihat banyaknya kasus pencurian sepeda motor yang sekarang kejadiannya cepat banget. Hanya dalam hitungan beberapa detik saja motor bisa hilang. Jadi kita bikin alat ini supaya bisa mencegah atau mengurangi tindak pencurian tersebut,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam proses perakitan sendiri dilakukan secara bertahap di sekolah. “Sebulan, jadi seminggu dua kali kita bikin ini, karena kita juga ada pembelajaran, jadi bertahap tidak langsung sekaligus,” pungkasnya. (*)




















