Bogor24Update – Siswa SMA Kemala Taruna Bhayangkara, Gunungsindur, Kabupaten Bogor, meluncurkan dua buku sebagai sebuah karya dalam rangka memperingati Bulan Bahasa.
Kedua buku yang merupakan kumpulan karya siswa kelas XI yang awalnya lahir dari tugas pembelajaran itu berjudul Echoes of Heritage dan Suara Dari Masa Depan.
Buku berjudul Echoes of Heritage merupakan berisi kumpulan kolom atau opini, sedangkan buku kedua berjudul Suara Dari Masa Depan, merupakan antologi karya sastra siswa.
Sebelum diterbitkan, karya para siswa melalui proses kurasi dan penyuntingan yang melibatkan penulis profesional.
Kepala SMA Kemala Bhayangkara, Hendri Adi, mengatakan tantangan terbesar dalam menulis sering kali justru keberanian untuk memulai.
“Halangan utama orang untuk merefleksikan apa yang dipikirkan dalam bentuk tulisan adalah memulai. Anak-anak ini berhasil melampaui itu dan hari ini kami disajikan dua buku karya pertama mereka,” ujar Hendri dalam keterangannya, Minggu 27 September 2026.
Buku Echoes of Heritage berawal dari penugasan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Para siswa diminta merefleksikan pengalaman saat berinteraksi dengan budaya, kemudian mengembangkannya menjadi tulisan berbentuk opini.
Menurut Hendri, proses tersebut tidak hanya bertujuan menyelesaikan tugas sekolah, tetapi juga mendorong siswa menghasilkan karya yang dapat dibaca orang lain.
“Tidak hanya sekadar mempersiapkan dan menuangkan ide, tetapi bagaimana ide itu menjadi karya,” ujarnya.
Pihak sekolah berpesan agar para siswa tidak ragu untuk menulis karena setiap orang memiliki pengalaman dan cerita yang dapat diolah menjadi karya.
“Teruslah berkarya karena setiap dari kalian punya cerita, punya narasi yang menunggu untuk dituliskan. Semua orang layak menulis sesuatu tentang apa yang mereka lihat dan rasakan,” tuturnya.
Proses penerbitan kedua buku tersebut berlangsung sekitar sembilan bulan. Dimulai dari kick-off proyek pada Februari, siswa menjalani tahapan penulisan, penentuan tenggat, pengumpulan naskah, kurasi, penyuntingan oleh editor hingga pencetakan.
Proses panjang tersebut menjadi pengalaman bagi siswa bahwa sebuah karya membutuhkan tahapan, mulai dari menuangkan gagasan hingga menghasilkan tulisan yang layak diterbitkan.
Di samping itu, perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut.
Direktur Kebhayangkaraan Irjen Pol M Sugiarto mengatakan AI merupakan bagian dari perkembangan zaman yang sulit diabaikan. Namun, siswa didorong tetap menjadikan pemikiran dan pengalaman pribadi sebagai titik awal dalam menulis.
“Kalau kita menyatakan bagaimana pengaruh AI di zaman sekarang, hampir tidak mungkin kita tidak melirik AI, tetapi seberapa orisinal tulisan kita? Tulis dulu, tuangkan pikiran kita, baru dalam proses selanjutnya melibatkan AI,” ujarnya.
Ia juga mendorong para siswa agar menjadikan peluncuran buku tersebut sebagai langkah awal untuk terus berkarya.
“Setelah kita mencoba dan berhasil, Insyaallah kita akan memancing karya-karya yang lain. Jadi, terus berkarya. Negara ini membutuhkan karya-karya, bukan sekadar orang yang pintar. Karya yang bisa dirasakan orang lain,” tandasnya. (*)




















