Sukabumi24Update – Inovasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Tenjoayu, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, mendapat pujian langsung dari Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas. Budidaya melon sistem rumah kaca (greenhouse) yang dikelola desa ini dinilai berpotensi menjadi ikon ekonomi baru di Cicurug.
H. Andreas menilai, keberhasilan BUMDesa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, melainkan dari bagaimana pemerintah desa mampu membangun unit usaha yang produktif dan memberi dampak nyata bagi kesejahteraan warga.
“Ini adalah kebanggaan bersama. Kemajuan sebuah desa tercermin dari bagaimana ia dikelola. Bukan hanya soal proyek pembangunan, tetapi bagaimana desa mampu menciptakan usaha yang tumbuh dan memberi keuntungan bagi masyarakatnya,” ujar H. Andreas saat meninjau lokasi, Minggu (1/11/2026).
Menurutnya, BUMDesa Tenjoayu telah menunjukkan pendekatan yang berbeda. Di tengah keterbatasan lahan, pengelola mampu mengoptimalkan ruang yang tersedia menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Keberhasilan ini patut dijadikan teladan bagi desa-desa lain.
“Luar biasa, ini patut diapresiasi dan didukung. Bahkan bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain di wilayah Cicurug,” tambahnya.
Lebih jauh, H. Andreas membuka peluang kerja sama antardesa untuk memperluas jangkauan produksi. Pasalnya, permintaan pasar yang terus bertumbuh belum bisa dipenuhi oleh kapasitas yang ada saat ini.
“Kebutuhan pasar ekspor saja mencapai 20 ton. Ini peluang besar. Desa lain yang punya lahan bisa bergabung, Tenjoayu berbagi ilmu dan pengalaman, desa lain menyediakan lahan. Sinergi ini yang akan kita dorong,” jelasnya.
Jangka panjangnya, budidaya melon ini bahkan diproyeksikan dapat mengangkat nama Kecamatan Cicurug sebagai sentra produksi melon berkualitas.
“Siapa tahu ke depan masyarakat mengenal Cicurug sebagai penghasil melon unggulan. Ini bisa menarik wisatawan saat masa panen dan membangkitkan ekonomi lokal secara lebih luas,” harapnya.
Sementara itu, Ketua BUMDesa Tenjoayu, Sukses Mandiri, Angga Purnama, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya mengelola dua unit greenhouse dengan luas masing-masing sekitar 300 meter persegi. Setiap unit mampu menampung sekitar 600 tanaman melon.
Dua varietas unggul dikembangkan, yaitu Melon Lavender asal Vietnam dan Melon Dimension. Hasil panen kedua menunjukkan peningkatan signifikan, baik dari segi kualitas maupun bobot buah.
“Melon Lavender sekarang bisa mencapai berat 2,5 kilogram, sedangkan Dimension sekitar 1,5 kilogram. Jika panen pertama kita meraih sekitar Rp30 juta, untuk panen kedua kita menargetkan sekitar Rp35 juta dengan biaya operasional yang relatif sama,” ungkap Angga.
Pada masa panen pertama, BUMDesa sengaja membagikan sebagian hasilnya kepada warga sebagai wujud syukur dan pesta masyarakat desa.
Kini, tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan modal untuk menambah kapasitas produksi. Dua greenhouse yang ada saat ini menghasilkan sekitar dua ton melon per siklus panen, angka yang masih jauh dari kebutuhan pasar.
“Kita masih punya lahan desa yang bisa dibangun satu lagi greenhouse. Namun kendalanya ada pada pendanaan. Kami berharap ada dukungan dari pemerintah kecamatan maupun kabupaten agar potensi ini bisa terus berkembang,” harap Angga.
Ke depannya, BUMDesa Tenjoayu ingin membangun sistem budidaya melon yang terintegrasi, mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pemasaran.
Penulis: Tim Sukabumi24Update
Editor: Redaksi Sukabumi24Update






















