Sukabumi24update – Petani di Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, mengeluh. Pasokan air ke lahan pertanian tidak optimal akibat kebocoran saluran irigasi di Daerah Irigasi (DI) Citepus. Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi kini turun memetakan kerusakan sebagai bahan pengajuan rehabilitasi.
Dampaknya paling dirasakan petani di wilayah hilir yang kesulitan mendapatkan air untuk mengairi persawahan. Bahkan, petani mengaku telah berupaya memperbaiki kebocoran secara swadaya, namun belum mampu mengatasi seluruh kerusakan.
Juru DI Citepus UPTD Dinas PU Kabupaten Sukabumi, Saepul Rohman mengatakan, survei dilakukan untuk mengidentifikasi titik saluran yang bocor, retak, maupun mengalami kerusakan lainnya.
“Kebocorannya banyak sehingga air tidak sampai ke lokasi yang membutuhkan, terutama persawahan,” kata Saepul.
Menurutnya, saluran DI Citepus yang menjadi kewenangan UPTD Dinas PU Kabupaten Sukabumi memiliki panjang sekitar 3,7 kilometer. Dari hasil survei sementara, sekitar 30 persen saluran mengalami kerusakan, sedangkan 70 persen lainnya masih dalam kondisi layak.
Temuan tersebut menjadi bahan untuk menyusun usulan rehabilitasi, terutama pada bagian saluran yang mengalami kebocoran dan kerusakan sehingga mengganggu distribusi air.
“Pertama kami survei kerusakannya. Setelah itu diusulkan untuk rehabilitasi, terutama bagian yang bocor, retak, dan rusak,” tuturnya.
Keluhan juga disampaikan petani di Kampung Cidahon, Desa Citepus. Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mukti Tani, Dadang menyebut, berkurangnya pasokan air telah dirasakan selama sekitar empat bulan terakhir.
Menurut Dadang, hampir 50 hektare lahan pertanian yang berada dalam layanan irigasi tersebut terdampak. Kondisi ini membuat petani kesulitan mengandalkan pasokan air, terutama saat musim kemarau.
“Tahun sekarang petani benar-benar mengeluh. Dari hulu sampai hilir banyak yang tidak beres, terutama karena banyak kebocoran. Biasanya musim kemarau empat bulan pun masih bisa produksi, tetapi sekarang petani benar-benar kesulitan,” kata Dadang.
Berbagai upaya telah dilakukan petani untuk mengatasi persoalan tersebut. Mereka menggunakan terpal, plastik, dan material seadanya untuk menutup bagian saluran yang bocor.
Warga bahkan sempat mengumpulkan iuran secara sukarela hingga sekitar Rp6 juta untuk melakukan perbaikan. Namun, upaya swadaya tersebut belum mampu mengatasi seluruh kerusakan saluran irigasi.
Dinas PU Kabupaten Sukabumi menyatakan, pemetaan kerusakan menjadi tahap awal sebelum rehabilitasi dapat dilakukan. Meski usulan penanganan telah disampaikan, jadwal realisasi pekerjaan belum dapat dipastikan karena masih menunggu proses lebih lanjut.
“Kami belum bisa memastikan jadwal realisasinya. Usulan penanganan sudah disampaikan dan selanjutnya menunggu proses,” ujar Saepul.
Penulis: Tim sukabumi24update
Editor: Redaksi sukabumi24update





















