Bogor24Update – Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, memaparkan potensi wilayah sekaligus pemetaan permasalahan lingkungan.
Langkah tersebut dilakukan guna menyelaraskan program pembangunan berbasis kebutuhan riil masyarakat di kawasan perkotaan yang padat.
Kelurahan Kedung Badak memiliki luas wilayah sekitar 2,40 km² (200 hektar) yang dihuni lebih dari 30.000 jiwa. Wilayah yang terbagi dalam 14 Rukun Warga (RW) dan 99 Rukun Tetangga (RT) ini didominasi oleh pemukiman padat serta pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, dan jasa di sepanjang Jalan Sholeh Iskandar.
Camat Tanah Sareal, Rokib, mengatakan, karakter Kedung Badak sangat berbeda dengan kelurahan lain di Kecamatan Tanah Sareal karena tingkat urbanisasinya yang tinggi.
“Potensi, masalah, dan kondisi di masing-masing wilayah tentu berbeda. Kedung Badak ini wilayahnya besar dan sekitar 70 hingga 80 persen didominasi kawasan perkotaan,” kata Rokib, Selasa, 28 Juli 2026.
Sementara itu, Lurah Kedung Badak, Ahnim Sutangyat, memaparkan sejumlah isu prioritas yang tengah ditangani jajarannya. Salah satu fokus utama adalah penanganan banjir musiman yang kerap melanda wilayah RT 04 RW 09.
Wilayah tersebut merupakan area vital karena menjadi akses menuju fasilitas pelayanan publik, seperti sarana pendidikan dan Puskesmas Kedung Badak.
“Banjir di lokasi tersebut menjadi perhatian serius, terutama saat curah hujan tinggi. Kami sudah bergerak melakukan normalisasi saluran air dan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta Kementerian Pekerjaan Umum,” jelas Ahnim.
Selain normalisasi, Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor bersama instansi terkait telah merencanakan pembuatan saluran drainase baru dengan kedalaman dan panjang yang memadai untuk mengurai genangan air.
Selain itu, pembuatan Dinding Penahan Tanah (DPT) di beberapa titik rawan longsor dan luapan air juga mulai dikerjakan.
Guna mengoptimalkan pelayanan publik di tengah tingginya kepadatan penduduk, pihak kelurahan juga merencanakan pemekaran wilayah administratif di tingkat RT.
“Di RW 10, ada satu RT yang menampung sekitar 60 KK. Warga merasa lingkungannya terlalu gemuk, sehingga berencana kita mekarkan agar pelayanan kependudukan lebih efektif,” beber Ahnim.
Selain persoalan genangan air, pengelolaan sampah di titik-titik krusial seperti TPS RT 08 RW 01 dan TPS RW 08 terus diakselerasi. Pihak kelurahan rutin mengedukasi warga terkait pemilahan sampah organik dan anorganik, serta mengandalkan pengangkutan berkala bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor dan Dinas Pasokan Sampah (BPN).
”Kami imbau warga disiplin tidak membuang sampah ke aliran kali. Pengangkutan sampah liar, seperti bekas kasur atau puing bangunan, kita tindak lanjuti secara intensif melalui kerja bakti dan jadwal pengangkutan teratur,” pungkasnya. (*)




















