Bogor24Update – Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang Jalan Suryakencana, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, untuk menyaksikan penampilan 12 barongsai, sangar-sangar dari berbagai budaya tradisonal dan marawis serta 500 UMKM di Bogor Street Festival (BSF) Cap Go Meh (CGM) 2026.
Acara tersebut dihadiri Walikota Bogor Dedie A. Rachim, Menteri Kebudayaan Fadli zon, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Pembukaan dilakukan oleh PPI Kota Bogor dengan membawa Bendera Merah Putih, kemudian dilanjutkan dengan Liong Merah Putih sepanjang 50 meter yang diiringi oleh Tim Qasidah, diikuti oleh Mojang Jajaka Kota Bogor dan Komunitas Lengser Ambu Bogor, dilanjutkan dengan penampilan drumband hingga tarian dari sanggar-sanggar Sunda.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya, menyampaikan bahwa di Indonesia terdapat cukup banyak kota yang dikenal dengan kemeriahan Cap Go Meh, mulai dari Surabaya, Bandung, Manado, hingga Bekasi. Namun, yang dianggap terbesar di Indonesia ada dua, yakni Singkawang dan Kota Bogor.
Selama bertahun-tahun, menurutnya hal yang menjadi kekuatan Kota Bogor adalah kolaborasi dan sinergi antara unsur masyarakat, komunitas, serta pemerintah kota.
“Nah, kalau bertahun-tahun Bogor istimewa karena kolaborasinya, tahun ini agak berbeda. Tidak hanya kolaborasinya, tetapi juga toleransinya, karena bertepatan dengan bulan Ramadan,” ucap Bima, Selasa malam, 3 Maret 2026.
Bima juga mengakui bahwa panitia mampu menampilkan rangkaian kegiatan yang cantik nan elegan, dimulai dengan adanya bazar Ramadan, kemudian waktu kegiatan pun disesuaikan setelah salat tarawih.
“Tadi kami sama-sama menunaikan salat tarawih terlebih dahulu, kemudian nanti juga ada nuansa Islami yang mengiringi pawai yang akan berjalan. Ini adalah ciri khas Kota Bogor,” ucapnya.
Ditempat yang sama, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan rasa syukurnya, karena tradisi ini telah berlangsung selama 24 kali penyelenggaraan.
“Alhamdulillah, ini tradisi Kota Bogor yang sudah berlangsung 24 kali. Sebetulnya total 27 kali, tetapi tiga kali tertunda,” katanya.
Ia menambahkan, hal tersebut menjadi bentuk nyata komitmen masyarakat Kota Bogor dalam menguatkan nilai toleransi dan keberagaman.
“Ini merupakan bentuk komitmen masyarakat Bogor, khususnya untuk menguatkan toleransi keberagaman dan mempererat tali silaturahmi antarumat beragama serta antarunsur masyarakat di Kota Bogor,” pungkasnya. (*)




















