Bogor24Update – Ribuan warga Muhammadiyah Kota Bogor melaksanakan salat Idulfitri 1447 Hijriah di Lapangan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Jumat, 20 Maret 2026.
Dalam salat Ied yang bertindak sebagai imam sekaligus pimpinan pelaksanaan, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bogor, Ustad Maizar Madsuri.
Maizar menjelaskan bahwa pelaksanaan salat Idulfitri ini merujuk pada keputusan resmi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang ditetapkan melalui kajian dan musyawarah bersama Majelis Tarjih.
“Yang kemudian menjadi keputusan yang mengikat bagi seluruh warga Muhammadiyah, termasuk di Kota Bogor,” ujarnya.
Maizar mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi intensif dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terkait potensi perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri.
Menurutnya, sejak awal
Muhammadiyah memulai puasa lebih awal, yakni sejak 18 Ramadan, sehingga sangat terbuka akan kemungkinan terjadi perbedaan dengan keputusan pemerintah melalui sidang isbat.
“Terbukti tadi malam bahwa terjadi perbedaan ketentuan derajatnya secara hisab. Pemerintah kita masih mempedomani kesepakatan MABIMS yang mengisyaratkan hilal di derajat ketinggian tertentu, sedangkan di Muhammadiyah sendiri kalau sudah satu derajat itu sudah masuk bulan baru dan sudah diimplementasikan melalui kalender Hijriah global tunggal yang sudah disosialisasikan oleh Muhammadiyah,” katanya.
Meski demikian, Muhammadiyah tetap menghormati keputusan pemerintah. Pihaknya juga mempunyai keyakinan dan metode yang telah menjadi pedoman Muhammadiyah sejak berdirinya pada 1912.
Salat Idulfitri di Lapangan Sempur diperkirakan dihadiri oleh ribuan jemaah. Selain itu, momen ini juga menjadi ajang silaturahmi dan berkumpul para tokoh, termasuk juga warga Muhammadiyah yang sudah lama tidak bertemu.
“Alhamdulillah, banyak juga masyarakat yang memang meyakini bahwa Idul Fitri itu
di tanggal 20 Maret itu ikut bergabung bersama Muhammadiyah,” tambahnya.
Ia mengajak, umat Islam untuk mensyukuri hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Ia juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai spiritual, sosial, dan moral yang telah dibangun selama Ramadan sebagai bekal menghadapi kehidupan ke depan.
“Kita berharap nilai-nilai Ramadan menjadi benteng perisai kita dalam menghadapi dinamika kehidupan setelah Ramadhan,” pungkasnya. (*)





















