Cianjur24Update – Angka Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Cianjur masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Berdasarkan data yang disampaikan Bupati Cianjur dr. Mohammad Wahyu Ferdian, jumlah warga yang masuk kategori tidak sekolah mencapai sekitar 46 ribu orang dari berbagai kelompok usia.
Hal tersebut disampaikan Bupati saat menghadiri kegiatan Gema Tunas ke-5 PKBM dan SKB se-Jawa Barat yang digelar di Kabupaten Cianjur, Jumat 18 Septemberb2026.
Menurut Wahyu, angka 46 ribu tersebut tidak hanya mencakup anak usia sekolah, tetapi juga masyarakat dewasa hingga lanjut usia yang belum menyelesaikan pendidikan.
“Saat ini berapa ribu? 46.000. 46.000 itu PR kita semua, karena kan itu terdiri dari seluruh usia. Yang usianya 70, 80, 60, itu masuk ke dalam angka tersebut,” ujar Wahyu.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Cianjur terus mendorong pemerataan pendidikan bagi seluruh masyarakat, baik melalui jalur formal maupun pendidikan nonformal.
Masyarakat yang masih berada pada usia wajib belajar diarahkan untuk mengikuti pendidikan formal. Sementara warga yang telah putus sekolah atau berada di luar usia wajib belajar didorong memanfaatkan layanan pendidikan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
“Bagi yang di usia wajib belajar, itu kita dorong ke pendidikan formal tentunya. Dan apabila yang di luar usia wajib belajar, kita mendorong para pemuda kita, atau bapak serta ibu yang sudah bekerja tetapi dulu putus sekolah, untuk bisa mengikuti pembelajaran di SKB dan PKBM,” katanya.
Melalui SKB dan PKBM, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga berkesempatan memperoleh ijazah yang setara dengan pendidikan formal melalui program Paket A, Paket B, dan Paket C.
“Kemudian memiliki pengetahuan dan juga tentunya sertifikasi atau ijazah yang setara dengan pendidikan, entah itu Paket A, Paket B, atau Paket C,” ucapnya.
Wahyu menambahkan, pemerintah akan memprioritaskan warga usia muda yang masih memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan agar memanfaatkan keberadaan PKBM di setiap kecamatan.
“Kita dorong yang usianya masih muda-muda dan yang masih memiliki semangat tentunya, agar bisa mengikuti PKBM yang ada di kecamatannya masing-masing,” ungkapnya.
Selain diikuti peserta dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat, kegiatan Gema Tunas ke-5 juga dihadiri perwakilan dari sejumlah provinsi lain, seperti Lampung, Banten, Riau, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran pendidikan nonformal dalam menjangkau masyarakat yang belum menyelesaikan pendidikan serta mendukung pemerataan akses pendidikan di Indonesia. (*)





















