Cianjur24Update – Pemandangan berbeda terlihat di kawasan Waduk Cirata, Maleber, Desa Gudang, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Lahan yang biasanya terendam air kini berubah menjadi area pertanian setelah debit Waduk Cirata menyusut akibat musim kemarau panjang.
Ratusan hektare lahan yang muncul akibat surutnya air dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam.
Beragam komoditas ditanam, mulai dari cabai, timun, labu, jagung, bawang daun, kacang panjang, kacang tanah hingga padi.
Lahan yang sebelumnya berada di bawah genangan air kini dipatok dan digarap warga. Luasan lahan yang dimanfaatkan masing-masing warga bervariasi, mulai dari sekitar satu hingga lima hektare.
Salah seorang warga Maleber, Apid, mengaku baru mulai memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam cabai dan labu besar.
“Saya di sini kebanyakan cabai, tapi ada juga labu. Ini baru mau ditanam, kalau lahannya sekitar satu hektare lebih,” ujar Apid kepada Beritasatu.com, Sabtu 19 September 2026.
Menurut Apid, lahan yang kini ditanaminya sebenarnya merupakan kawasan yang sewaktu-waktu dapat kembali terendam apabila debit air Waduk Cirata meningkat.
Karena itu, ia menyadari adanya risiko kerugian, terutama jika tanaman yang baru ditanam belum sempat dipanen ketika air kembali menggenangi lahan.
“Iya ini tergenangi air, kena sampai sana, sampai warung. Kalau ada air ya sudah, rugi pasti. Tapi sudah risiko,” katanya.
Apid mengatakan, untuk menggarap lahan seluas lebih dari satu hektare tersebut, dirinya telah mengeluarkan modal sekitar Rp50 juta. Dana itu digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk membayar tenaga kerja.
“Modal Rp50 juta itu untuk semuanya, untuk lahan lebih dari satu hektare. Kalau ada air terus, modal Rp50 juta itu hangus. Sudah risiko, tapi saya sudah memprediksi kapan ada air naik,” ujarnya.
Ia menargetkan tanaman yang ditanam dapat dipanen sekitar tiga bulan mendatang, dengan catatan debit air Waduk Cirata belum kembali naik.
Sementara itu, warga lainnya, Aling, mengaku telah beberapa kali memanen timun selama musim kemarau. Dalam satu kali panen, hasil yang diperolehnya mencapai sekitar lima kuintal.
Timun tersebut kemudian langsung dijual kepada bandar dengan harga sekitar Rp3.000 per kilogram.
“Kalau timun sudah tiga kali panen selama kemarau ini, langsung dijual ke bandar. Setiap panen hasilnya lima kuintal,” kata Aling.
Selain timun, Aling juga menanam sejumlah komoditas lain di lahan yang mengering, seperti cabai, kacang panjang dan kacang tanah.
Menurutnya, surutnya air Waduk Cirata memberikan kesempatan bagi warga untuk memanfaatkan lahan yang selama ini berada di bawah genangan.
“Kalau tidak musim kemarau, air sampai sini, sampai ke sana yang ke rumah itu, tinggal atapnya saja. Tapi karena surut ditanami. Semuanya orang-orang pada nanam, cabai, nanam apa saja,” tuturnya.
Meski memberikan peluang bagi warga untuk mendapatkan penghasilan, pemanfaatan lahan tersebut tetap memiliki risiko. Tanaman dapat terendam dan rusak apabila debit air Waduk Cirata kembali meningkat.
Warga pun memilih memanfaatkan lahan yang mengering selama musim kemarau, dengan harapan tanaman dapat dipanen sebelum air kembali menggenangi kawasan tersebut.
Aling mengatakan, kenaikan air di Waduk Cirata berbeda dengan aliran sungai yang dapat meningkat secara cepat. Menurutnya, air di kawasan waduk biasanya naik secara perlahan.
“Enggak seperti di sungai. Kalau sungai mah buas, begitu. Ini mah enggak, sedikit-sedikit,” pungkasnya.
Surutnya Waduk Cirata di kawasan Maleber kini membuat lahan yang sebelumnya menjadi kawasan genangan berubah menjadi area pertanian sementara.
Warga memanfaatkan lahan yang mengering untuk menanam berbagai komoditas sekaligus mencari penghasilan di tengah musim kemarau.
Namun, aktivitas pertanian tersebut tetap bergantung pada kondisi debit Waduk Cirata. Jika air kembali naik, lahan dan tanaman yang digarap warga berpotensi kembali terendam. (*)






















