Bogor24Update – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor menggelar kegiatan Aksi Hijau sebagai penutup rangkaian Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor Kelurahan Ciparigi, Kecamatan Bogor Utara itu diisi dengan penanaman pohon, bebersih kali, hingga penyediaan layanan pengobatan tradisional gratis bagi masyarakat setempat.
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur lintas sektor mulai dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor, Kecamatan Bogor Utara, Kelurahan Ciparigi, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Bogor, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kota Bogor, hingga Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Ciparigi.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, mengatakan bahwa fokus kegiatan lapangan dilaksanakan di sekitar aliran sungai dan fasilitas umum yang berjarak sekitar 50 hingga 100 meter dari Kantor Kelurahan Ciparigi.
Kata dia, pihaknya juga menggandeng praktisi Thibbun Nabawi untuk memberikan layanan kesehatan cuma-cuma bagi warga.
“Poin utamanya adalah bagaimana kita memasifkan edukasi dan aksi mitigasi secara konsisten. Mitigasi yang terus kita rawat dan jaga ini menjadi indikator penting ketangguhan kota. Pohon yang kita tanam hari ini mungkin tidak langsung kita rasakan manfaatnya sekarang, melainkan untuk anak cucu kita kelak,” ujar Dimas, Minggu 1 November 2026.
Menurutnya, penanaman pohon berfungsi sebagai Penahan Tanah Terjal (PPT) alami guna mencegah tanah longsor tanpa harus selalu bergantung pada konstruksi beton yang menelan biaya besar.
Dimas menyoroti imbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai peningkatan fase curah hujan di Kota Bogor, mulai dari intensitas rendah, menengah, hingga tinggi. Dalam menghadapi fenomena cuaca ekstrem ini, BPBD terus mengusung slogan penanggulangan bencana: “Kenali Potensinya, Kurangi Risikonya”.
“Masyarakat perlu mengenali potensi bahaya di sekitarnya. Jika angin kencang dan hujan deras, risikonya adalah pohon tumbang atau atap rumah berterbangan. Untuk wilayah rawan perbukitan, ada potensi tanah longsor. Sedangkan untuk banjir, karakteristik di Kota Bogor umumnya adalah banjir lintasan yang seketika surut dalam kurun waktu beberapa jam setelah hujan mereda,” katanya.
Sebagai langkah nyata pergelangan mitigasi di tingkat tapak (grassroot), BPBD Kota Bogor terus memperkuat keberadaan Keltana. Hingga Oktober 2026, telah terbentuk 39 Keltana di seluruh wilayah Kota Bogor.
“Teman-teman Keltana ini adalah first responder di lapangan. Penyampaian informasi yang cepat dan akurat di tingkat awal akan menentukan keberhasilan penanganan darurat dan langkah keberlanjutan. Keltana bukan sekadar bergerak saat tanggap darurat, tetapi juga menjadi corong BPBD untuk menyebarkan ‘virus’ mitigasi dan kesiapsiagaan kepada warga,” tegas Dimas.
Di samping itu, BPBD mengimbau warga untuk waspada saat saat terjadi cuaca ekstrem.
Bagi pengendara motor/mobil, hindari berteduh atau memarkir kendaraan di bawah pohon rindang saat hujan deras dan angin kencang. Bilamana jarak pandang terbatas, segera menepi di tempat yang aman.
Sedangkan untuk pejalan kaki, utamakan keselamatan dan hindari berlindung di area yang berpotensi roboh atau tersambar petir.
Selain itu, Dimas berharap masyarakat terus menjaga kebersihan saluran air dan aliran sungai agar kapasitas drainase tetap optimal. Serta gotong royong dengan mengedepankan sikap saling peduli dan bantuan antarwarga.
“Insya Allah, warga Bogor yang guyub dan bergotong royong akan senantiasa ditangtayungan serta dijauhkan dari marabahaya,” tandasnya. (*)






















