Bogor24Update – Akibat musim kemarau yang berlangsung sejak Juni 2026, mengakibatkan Tinggi Muka Air (TMA) di Bendung Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, kini mencapai 0 sentimeter (cm).
Petugas Bendung Katulampa, Muhammad Alwan mengatakan, kondisi tersebut terutama berdampak pada surutnya aliran air Sungai Ciliwung. Sementara aliran air di Kali Baru masih dalam kondisi normal.
“Untuk Kali Baru masih aman, cuma ke sungainya saja yang surut. Sekarang TMA di Bendung Katulampa berada di angka 0 sentimeter. Cuma kita ada penggelontoran untuk menjaga ekosistem sungai,” ujar Alwan.
Ia menjelaskan, sebelumnya TMA masih berada di kisaran 10 sentimeter sebelum akhirnya turun hingga 0 sentimeter.
“Kalau parahnya mah dari kemarin tapi sebelum-sebelumnya ada 10 cm dari kemarin surut total,” ucap Alwan
Saat kondisi sungai surut, ia menjelaskan petugas melakukan pembersihan sampah dan sedimentasi di dasar sungai sebagai bagian dari kegiatan rutin pemeliharaan.
“Nah surut begini. Kegiatan rutin kita mungkin membersihkan sampah, sedimentasi,” ujarnya.
Menurutnya, musim kemarau mulai berdampak pada warga di sekitar Bendung Katulampa. Sejumlah sumur warga dilaporkan juga mengering.
“Untuk warga di sekitaran bendung itu semurnya pada kering. Mangkanya sekarang di air irigasi banyak yang dipakai untuk itu, jadi warga yang pada nyuci, mandi sekarang di Kali Baru. Alhamdulillah untuk di Kali Baru masih normal masih bisa dipakai untuk warga,” bebernya.
Ia berharap curah hujan di wilayah hulu segera meningkat agar debit air kembali bertambah. Dirinya menyebut, kondisi cuaca saat ini sulit diprediksi karena memasuki masa pancaroba.
“Nanti kita lihat cuaca saja nanti kalau ada hujan dari hulu beberapa lama kemungkinan akan bertambah tapi kalau tidak ada hujan akan bertahan seperti ini.
Kita tidak bisa prediksi kalau sekarang cuacanya pancaroba, bisa dikatakan kemarau tapi ada hujan, istilahnya disebut kemarau basa. Tapi untuk sekarang mulai dari bulan Juni lumayan kemarau nya tapi beberapa hari kemarin ada hujan sekitar 30 menit gak lama,” jelasnya.
Penurunan debit air seperti ini, dikatakan Alwan, memang hampir terjadi setiap tahun dan umumnya terjadi pada periode Juni hingga September, sebelum memasuki musim hujan sekitar Oktober.
“Surut ini ada tiap tahun, biasanya di bulan Juni, Juli, Agustus, September Oktober mulai musim hujan lagi, tapi tiap tahun itu tidak bisa diprediksi, seperti tahun kemarin tidak sampai kering begini, terakhir kering tahun 2009 selama tiga bulan, tapi kalau sekarang baru beberapa hari ini TMA bendung katulampa 0 cm,” pungkasnya. (*)





















