Sukabumi24update – Debu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau masuk ke wilayah Sukabumi, Jawa Barat sejak Sabtu siang (5/9/2026). Akibatnya sejumlah atap dan halaman rumah warga mulai dipenuhi abu. Berdasarkan pantauan satelit, sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau mengarah ke tenggara menuju wilayah Sukabumi. Sebaran abu ke arah Sukabumi terdeteksi sekitar pukul 12.30 WIB, Sabtu (5/9/2026). Arah sebaran kemudian terpantau konsisten hingga sekitar pukul 13.30 WIB dan masih berlanjut. Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah di Sukabumi berpotensi terdampak abu vulkanik. Hingga Sabtu sore, Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi. Abu terpantau menyebar ke beberapa arah, di antaranya tenggara, selatan, barat daya, dan barat. Namun sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi arah dan kecepatan angin, sehingga wilayah yang terdampak dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi atmosfer.
Minggu pagi (6/9/2026), warga dikagetkan dengan banyaknya butiran debu yang menempel di sejumlah atap, bunga hingga lantai rumah. Iwan Setiawan, warga Sukabumi, mengaku baru sadar setelah melihat berita. “Saat bersih-bersih di rumah anak pak ada banyak tanah di atas. Eh pas lihat berita ternyata itu abu. Tadi banyak pagi saya saat bersih-bersih jam 7 pagi. Khawatir karena di sini banyak orang yang sakit takut terisap,” ujarnya.
Sari Suryani juga merasakan hal sama. “Tadi pagi udah disapui, udah dipel tapi masih ada lagi abunya. Saya dengar dari orang-orang terdengar dentuman. Saya lihat dari berita Gunung Krakatau meletus. Di atas juga genting pada putih,” kata Sari. Meski sudah berkali-kali disapu, abu masih terus menempel di halaman dan atap rumah warga.
Badan Geologi Kementerian ESDM terus melakukan pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau yang merupakan gunung api aktif tipe A di Selat Sunda, antara Jawa Barat dan Lampung. Gunung Anak Krakatau memiliki catatan sejarah erupsi besar, termasuk erupsi 1883 yang memicu tsunami. Erupsi 22 Desember 2018 juga berdampak tsunami. Masyarakat Sukabumi diimbau tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan. Warga yang beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker, terutama jika abu vulkanik mulai terlihat. Masyarakat juga diminta menghindari paparan abu secara langsung, serta terus memantau informasi resmi dari pihak berwenang.
Penulis: Tim Redaksi sukabumi24update
Sumber: Badan Geologi KESDM / Warga Sukabumi



















