Bogor24Update – Momen haru terjadi di Kota Bogor. Seorang pengayuh becak yang sudah lanjut usia (lansia) mendapatkan bantuan becak listrik, Selasa 6 Oktober 2026.
Disalurkan melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN), bantuan tersebut diketahui merupakan hibah dari pemerintah pusat.
Berdasarkan informasi yang didapat di lapangan, total ada 160 unit becak listrik. Bantuan itu diserahkan langsung GSN kepada penerima manfaat di halaman parkir Gymnasium Sekolah Vokasi IPB, Selasa 6 Oktober 2026.
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa becak listrik ini diproduksi PT Pindad.
Bantuan ini, kata dia, merupakan program yang diinisiasi Presiden untuk membantu menyejahterakan para pengayuh becak, terutama mereka yang sudah lanjut usia dan masih melakukan aktivitas tersebut.
“Kami pemerintah wajib mengawal program baik Pak Presiden ini. Sehingga bantuan ini diharapkan bisa benar-benar bermanfaat. Karena yang menerima rata-rata, dan sesuai persyaratan adalah lansia di atas usia 55 tahun,” kata Jenal.
Jenal Mutaqin menjelaskan, ada beberapa langkah pascapemberian becak listrik ini kepada penerima. Sebagai leading sector, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor akan memfasilitasi.
Pertama adalah pemberian surat izin mengemudi, termasuk dengan pelatihannya. Hal tersebut guna memastikan para penerima manfaat bisa mengoperasikan becak listrik tersebut karena ada perbedaan dengan becak manual.
Lanjut ia, legalitas pengemudi becak listrik tersebut juga akan dirangkaikan dengan penempatan lokasi operasional mereka. Karena sesuai dengan regulasi yang ada di Kota Bogor, ada titik yang sudah dilarang untuk beroperasinya becak.
“Ada Perwali Nomor 15 Tahun 2006 tentang rute jalan yang tidak boleh dilalui oleh kendaraan becak. Kami harus mengawal dan menyelaraskan agar program ini betul-betul berjalan dan bermanfaat untuk warga Kota Bogor,” ujarnya.
Untuk zona yang sudah masuk dalam regulasi tersebut, kata Jenal, bersifat tetap dan tidak akan berubah. Sehingga di lokasi eksisting yang sudah ditetapkan, becak lama akan ditarik dan diganti dengan becak listrik tersebut.
Menurutnya, ada 16 titik jalan yang dilarang dilintasi oleh becak. Maka hal tersebut harus terus disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya pengayuh becak.
“Ini program personalnya Pak Presiden, bukan lewat APBN. Tapi tentu secara pelaksanaan pemanfaatan paling penting adalah pengawasan,” jelasnya.
Lebih lanjut Jenal Mutaqin menjelaskan, ia sudah berkoordinasi dengan Polresta Bogor Kota terkait dengan jalur-jalur yang masih diizinkan dilintasi oleh becak. Termasuk usulan pangkalan becak listrik sebagai tempat untuk melakukan isi daya baterai becak tersebut.
Sedangkan terkait tarif, dirinya menerangkan bahwa hal itu hanya kesepakatan antara pengayuh dan penumpangnya saja. Meski begitu, Jenal meminta tarif tidak saling memberatkan antara keduanya.
“Untuk penerima bantuan, maka becak lamanya harus ditarik. Agar semangat untuk menyelesaikan permasalahan mengayuh di usia rentan itu sudah terhenti, kita konversi jadi becak listrik. Dan betul-betul ikut mengawal sebelum implementasi dilakukan,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Kelembagaan dan Kerja Sama GSN, Nuryana, mengatakan bahwa ada perjanjian di atas kertas dengan para penerima becak listrik. Beberapa poinnya adalah komitmen para penerima manfaat untuk senantiasa menjaga dan merawat becak listrik tersebut, serta larangan untuk diperjualbelikan.
“Concern Bapak Prabowo tidak hanya masalah nasional. Tapi juga hal-hal kecil yang tidak luput dari perhatian beliau. Salah satu programnya adalah bantuan becak listrik ini,” ucapnya.
Menurut Nuryana, manfaat dari becak listrik bagi para pengayuh lansia ini salah satunya mengurangi beban tenaga mereka saat beroperasi.
“Karena hemat tenaga, sehingga operasionalnya juga bisa lebih panjang,” pungkasnya.(*)





















