Bogor24Update – Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, terus menunjukkan perubahan yang sangat besar sebagai kawasan pemukiman bernilai ekonomi tinggi yang berwawasan lingkungan.
Dengan mengintegrasikan penanganan stunting, inovasi pengelolaan sampah, ketahanan pangan berbasis urban farming, hingga penguatan UMKM lokal, wilayah ini membuktikan bahwa pembangunan perkotaan berkelanjutan dapat dicapai melalui kolaborasi lintas sektor yang erat.
Lurah Mekarwangi, Muhammad Nur, menjelaskan berbagai program unggulan dan potensi strategis yang tengah berjalan di wilayahnya. Keberhasilan pembangunan di Mekarwangi dinilai tidak lepas dari sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Katanya bahwa seluruh elemen masyarakat berkomitmen penuh untuk mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih, dan mandiri secara ekonomi.
Dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, Kelurahan Mekarwangi menaruh perhatian serius pada intervensi tengkes (stunting). Melalui program Bapak Asuh Stunting, pihak kelurahan menggalang keterlibatan aktif para pemangku kepentingan, pimpinan instansi, hingga pelaku usaha lokal untuk menjadi orang tua asuh bagi anak-anak terindikasi stunting. Langkah ini dirancang secara terpadu agar penanganan gizi buruk di wilayah Mekarwangi dapat diselesaikan dari hulu.
”Dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, Kelurahan Mekarwangi menaruh perhatian serius pada intervensi tengkes (stunting). Melalui program Bapak Asuh Stunting, pihak kelurahan menggalang keterlibatan aktif para pemangku kepentingan, pimpinan instansi, hingga pelaku usaha lokal untuk menjadi orang tua asuh bagi anak-anak terindikasi stunting,” jelas Muhammad Nur, kepada wartawan, Kamis 23 Juli 2026.
Ia mengatakan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan makanan tambahan bermutu tinggi dan pemenuhan gizi seimbang, tetapi juga disertai pendampingan edukasi kesehatan bagi ibu hamil dan menyusui. Langkah ini menyasar akar masalah gizi buruk secara sistematis demi mencetak generasi muda Mekarwangi yang sehat dan berdaya saing di masa depan.
Sedangkan di sektor lingkungan, Mekarwangi memiliki fasilitas pengelolaan sampah terpadu yang menjadi percontohan di Kota Bogor, yakni TPS 3R Mekarwangi atau Mekar Mandiri. Beroperasi sejak Agustus 2023 di atas lahan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi, fasilitas ini lahir dari kemitraan strategis antara Pemerintah Kota Bogor dengan organisasi lingkungan global, World Wide Fund for Nature (WWF).
”Di sektor lingkungan, Mekarwangi memiliki fasilitas pengelolaan sampah terpadu yang menjadi percontohan di Kota Bogor, yakni TPS 3R Mekarwangi atau Mekar Mandiri. Beroperasi sejak Agustus 2023 di atas lahan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi, fasilitas ini lahir dari kemitraan strategis antara Pemerintah Kota Bogor dengan organisasi lingkungan global, WWF,” jelasnya.
Muhammad Nur menambahkan, inovasi utama TPS 3R ini terletak pada kemampuannya mengolah sampah plastik bernilai rendah (low-value plastic) yang biasanya sulit didaur ulang, sekaligus menekan volume buangan sampah akhir ke TPA secara signifikan. Guna menunjang keberlanjutan ekosistem di sekitar fasilitas, kawasan TPS 3R ini juga diperkuat dengan aksi penanaman ratusan pohon peneduh dan pelindung lingkungan.
Keterlibatan Mekarwangi dalam isu lingkungan juga mencakup dukungan terhadap rencana PSEL Kayumanis. Sebagai wilayah yang masuk dalam skema Ring 1, Kelurahan Mekarwangi memfokuskan pembenahan pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Edukasi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga terus digalakkan agar sampah yang keluar sudah terpisah antara organik dan anorganik sebelum didistribusikan.
”Pada prinsipnya seluruh wilayah yang ditetapkan atau direncanakan sebagai Ring 1 PSEL Kayumanis, alhamdulillah semuanya kompak mendukung terhadap keberadaan PSEL di Kayumanis. Wujud dukungannya, kita dalam pelaksanaan pengelolaan sampah berharap dari hulu sampai hilir. Penanganan sampah yang efektif itu harus dari hulu sampai hilir. Hulu ini Mekarwangi sudah mengaktifkan dan terus mensosialisasikan pola pemilahan sampah dari rumah tangga agar keluarnya sudah terpisah antara organik dan anorganik,” tuturnya.
Lurah Mekarwangi membeberkan bahwa potensi sampah di Kecamatan Tanah Sareal berdasarkan jumlah penduduk mencapai sekitar 31 ton per hari. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 50 persen yang terangkut oleh armada dinas, sementara 50 persen sisanya merupakan sampah organik yang belum sepenuhnya termanfaatkan karena kapasitas fasilitas 3R dan Bank Sampah yang masih dalam tahap pengembangan.
”Kecamatan Tanah Sareal itu potensi sampahnya kalau dilihat dari jumlah penduduk sekitar 31 ton. Yang sudah terangkut itu 50 persen dari sampah 31 ton itu oleh DLH, kemudian 50 persennya adalah sampah-sampah organik yang memang masih belum termanfaatkan semuanya karena mengingat TPS 3R dan Bank Sampah kita volumenya belum bisa mengakomodir seluruh wilayah di Kelurahan Mekarwangi ini,” terangnya.
Mengenai kekhawatiran dampak lingkungan dari operasional PSEL Kayumanis, Muhammad Nur optimis teknologi yang diterapkan mampu meminimalisasi risiko emisi bagi warga Mekarwangi maupun Kayumanis. Pola pengolahan sampah modern yang mengonversi limbah menjadi energi listrik dipandang sebagai solusi ramah lingkungan.
”Kalau dampak, mungkin karena jarak cukup berjauhan, tentunya tidak dirasakan atau kecil yang dirasakan oleh wilayah Mekarwangi. Tetapi dengan pola pengelolaan PSEL yang ada, yang sudah disosialisasikan, memang meminimalisasi dampak ke seluruh wilayah, bahkan di Kayumanis sendiri dampak itu bisa ditekan. Makanya digunakan pola merubah pengolahan sampah menjadi energi listrik karena memang dipandang itu yang ramah lingkungan,” katanya.
Guna menjawab tantangan keterbatasan lahan perkotaan, Kelurahan Mekarwangi secara aktif menggerakkan potensi pertanian perkotaan (urban farming). Di wilayah RW 11 Vila Mutiara Bogor, kelompok petani muda setempat sukses mengembangkan budidaya pangan mandiri. Keberlanjutan program ini kian solid setelah menerima dukungan hibah mesin pompa air dari program Corporate Social Responsibility (CSR) pada Juni 2025 lalu.
Tak hanya kaum muda, partisipasi kelompok ibu rumah tangga di perumahan seperti Bukit Mekarwangi juga sangat dominan melalui pemanfaatan sistem bercocok tanam hidroponik. Inisiatif hidroponik mandiri ini efektif memenuhi kebutuhan gizi keluarga sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas dari pekarangan rumah.
Sektor ekonomi lokal Mekarwangi juga bergerak dinamis melalui beragam aktivitas kewirausahaan berbasis kearifan lokal. Di wilayah Pabuaran, keberadaan Rumah Kopi Bogor menjadi pusat pengolahan kopi lokal yang makin diminati masyarakat luas. Di saat yang sama, potensi agroindustri berbasis singkong seperti produksi tape dan tepung mocaf (modified cassava flour) terus dilestarikan secara turun-temurun oleh warga lokal dengan sentuhan kreativitas modern.
Selain pengolahan pangan, Mekarwangi dikenal luas sebagai sentra kerajinan rumah tangga dan home decor lokal yang menyerap banyak tenaga kerja sekitar. Kombinasi kelengkapan fasilitas lingkungan, pusat kerajinan, dan aksesibilitas wilayah menjadikan kawasan ini sebagai salah satu target investasi properti favorit di Kecamatan Tanah Sareal.
Nilai ekonomis kawasan ini juga tercermin dari perkembangan alih fungsi lahan yang sudah berlangsung lama. Perubahan lahan pertanian dan perkebunan menjadi pemukiman warga di Mekarwangi tercatat telah terjadi sejak tahun 1995, sehingga pertumbuhan hunian saat ini didominasi oleh pemanfaatan lahan yang telah tertata.
”Perubahan lahan pertanian dan perkebunan menjadi perumahan itu memang sudah terjadi sejak dulu, sejak tahun 1995. Kalaupun sekarang ada pembangunan, tinggal penduduknya saja. Kalau pengembang yang membuka ruang perumahan baru secara masif itu sudah tidak ada karena lahannya memang sudah berubah bangunan,” ungkap Muhammad Nur.
Daya tarik investasi kawasan ini ditunjukkan oleh kisaran harga properti yang sangat kompetitif di pasaran. Harga tanah kavling dan rumah tapak di kawasan Mekarwangi saat ini ditawarkan mulai dari Rp 150 juta untuk lahan berukuran 42 m², hingga Rp 535 juta untuk unit rumah siap huni.
Seiring pesatnya pertumbuhan pemukiman dan aktivitas ekonomi, Pihak Kelurahan dan Kecamatan Tanah Sareal memberlakukan pengawasan ketat terhadap berdirinya usaha komersial modern seperti minimarket dan supermarket. Langkah monitoring dilakukan secara berkala demi memastikan kepatuhan perizinan dan kontribusi sosial dari para pelaku usaha.
”Kita terus memonitor secara door-to-door ke minimarket atau supermarket yang tumbuh di Tanah Sareal dan kita arahkan terus. Bahkan saya melarang mereka ketika membangun, jangan dibangun dulu sebelum ada izin resminya. Dukungan terhadap program lingkungan dan sosial juga terus kita dorong melalui potensi CSR mereka agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” tegas Muhammad Nur.
Melalui integrasi program Bapak Asuh Stunting, inovasi TPS 3R dari hulu ke hilir, penguatan ekonomi warga, serta pengawasan wilayah yang tertib, Kelurahan Mekarwangi optimistis dapat terus tumbuh menjadi kawasan yang mandiri, asri, berdaya saing, dan sejahtera bagi seluruh warganya. (*)




















