Bogor24Update – Pemerintah Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, terus melakukan percepatan pembangunan di tingkat kewilayahan melalui optimalisasi potensi ekonomi lokal, pengelolaan sampah, hingga penurunan angka stunting.
Lurah Cibadak, Herry Chaerudin, mengatakan bahwa Kelurahan Cibadak memiliki potensi besar mulai dari sektor permukiman swadaya, pengelolaan lingkungan berbasis Reduce, Reuse, Recycle (3R), hingga geliat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perkotaan.
Saat ini berdasarkan data kewilayahan, Kelurahan Cibadak dihuni oleh 29.420 jiwa, yang terdiri dari 14.843 laki-laki dan 14.577 perempuan.
Sedangkan dari sektor penerimaan daerah, capaian Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Kelurahan Cibadak Hingga Agustus 2026, realisasi PBB telah menembus angka Rp5.376.951.153 atau sekitar 65 persen dari total target yang ditetapkan sebesar Rp10 miliar lebih.
Menurut Herry, bahwa aktivitas UMKM diwilayahnya tersebar merata dari RW 01 hingga RW 15 dengan ragam produk, mulai dari budidaya jangkrik, pengrajin serok, budidaya ikan hias untuk komoditas ekspor di RW 08, 09, dan 10, kelompok tani, hingga Food Center hidroponik dan olahan keripik sayur organik di RW 15.
Ia juga mengungkapkan adanya tantangan ekonomi yang dihadapi para pelaku usaha lokal, seperti pengrajin ayam ungkep di RW 03 yang meredup akibat daya saing harga pasar.
”Memang lagi kondisi saat ini ekonomi kurang baik-baik saja, jadi kelihatannya usaha ayam ungkep ini mulai menurun. Setelah kita diskusi dengan pengrajin, biasanya mereka jual ayamnya saja Rp8.000, tapi kalah bersaing dengan porsi nasi padang murah seharga Rp10.000. Ini menjadi salah satu permasalahan yang butuh intervensi,” ujar Herry Chaerudin, pada Senin 10 Agustus 2026.
Selain itu, Cibadak juga memiliki kawasan industri rumahan yang cukup unik di RW 12, yang kerap dijuluki sebagai ‘Kampung Berisik’. Istilah tersebut lahir karena mayoritas warga di sentra tersebut berprofesi sebagai pengrajin wajan, panci, dan kerupuk kulit rumahan.
”Di RW 12 ada ‘Kampung Berisik’ atau Kampung Ganteng. Kalau belum biasa ke sana, waduh, kuping harus pakai kapas karena suara dentangan pembuatan wajan dan panci setiap hari. Kerupuk kulit rumahan juga masih mendominasi di situ,” katanya.
Sektor pengelolaan lingkungan turut menjadi fokus perhatian utama. Kelurahan Cibadak saat ini didukung oleh fasilitas TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle) Cibadak serta operasional Bank Sampah Orchid di RW 15 yang diinisiasi sejak 2025.
Meski begitu, Ia mengakui tantangan operasional masih ditemui di lapangan, seperti kendala akses jalan pengangkutan sampah di RW 04 hingga dinamika sosial warga terkait proses pengolahan komposter.
”Untuk penanganan sampah, kita sudah dibantu satu unit armada motor sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ke depan, kita berencana membangun integrasi fasilitas Bank Sampah di sebelah TPS3R Tamansari Persada untuk meningkatkan partisipasi nasabah warga,” Bebernya.
Guna mengatasi keterbatasan anggaran pemerintah, Kelurahan Cibadak aktif merangkul sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Sebanyak sembilan pelaku usaha di wilayah Cibadak telah berkomitmen menjadi bapak asuh untuk mengintervensi penanganan 41 anak stunting.
”Kami mencoba merangkul para pelaku usaha yang berkenan bekerja sama menangani stunting. Kami berharap keberadaan pelaku usaha di Kelurahan Cibadak ini manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, bukan hanya mengeruk keuntungan semata,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, percepatan sarana dan prasarana (Sarpras) Kelurahan tahun 2026 terus berjalan sesuai tahapan. Kegiatan pemeliharaan jalan di RW 09 telah rampung dilaksanakan pada Mei lalu. Renovasi Posyandu di Gang Sahabat (RT 04/RW 05) juga telah selesai, dan rencananya pada September 2026 mendatang akan dilanjutkan dengan pembangunan Posyandu baru di RW 11. (*)






















