Bogor24Update – Berwisata kini tidak lagi sebatas menikmati pemandangan atau mengunjungi sebuah destinasi. Pengalaman yang memberikan pengetahuan, keterampilan, sekaligus ruang untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan semakin menjadi bagian penting dalam aktivitas wisata masyarakat.
Melihat perkembangan tersebut, Kebun Raya Bogor terus mengembangkan konsep eduwisata berbasis pengalaman melalui berbagai kelas edukasi yang mengajak pengunjung belajar tentang tumbuhan dan lingkungan secara langsung.
Beragam kelas tersedia dengan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari Kompos, Propagasi Tanaman Buah (mencangkok), Tabulampot, Kokedama, Nepenthes, Terrarium, Platycerium, Kultur Jaringan, Oshibana, hingga Ecoprint.
Melalui kelas-kelas tersebut, pengunjung tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga diajak melakukan praktik dengan pendampingan fasilitator. Harga kelas edukasi mulai dari Rp 65.000 per peserta, belum termasuk tiket masuk Kebun Raya, tergantung jenis aktivitas yang dipilih. Bahan dan perlengkapan praktik telah disiapkan oleh pengelola.
General Manager Corporate Communication PT Mitra Natura Raya, Zaenal Arifin, mengatakan pengembangan kelas edukasi merupakan bagian dari upaya menjadikan Kebun Raya sebagai ruang interaksi masyarakat dengan alam.
“Kebun Raya bukan hanya tempat untuk melihat dan menikmati koleksi tumbuhan. Di sini masyarakat juga dapat belajar dan berinteraksi langsung dengan tumbuhan melalui berbagai aktivitas. Kami ingin pengalaman tersebut dapat membangun pengetahuan sekaligus kepedulian terhadap konservasi,” ujar Zaenal dalam keterangannya, dikutip Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurut Zaenal, pendekatan berbasis pengalaman membuat proses belajar menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Peserta dapat melihat secara langsung bagaimana tumbuhan diperbanyak, dirawat, dimanfaatkan, hingga diolah menjadi produk kreatif.
“Ketika seseorang terlibat langsung dalam sebuah proses, pengalaman belajarnya akan berbeda. Karena itu, kelas-kelas ini kami rancang agar peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mencoba dan menghasilkan sesuatu dari proses tersebut,” katanya.
Oshibana: Mengubah Keindahan Tumbuhan Menjadi Karya
Salah satu kelas yang merepresentasikan konsep belajar melalui pengalaman tersebut adalah Oshibana. Oshibana merupakan seni membuat karya dengan memanfaatkan bunga dan dedaunan yang dikeringkan menggunakan teknik press. Dalam kelas ini, peserta diperkenalkan pada teknik dasar Oshibana dan kemudian diajak mempraktikkannya secara langsung menggunakan material yang telah disediakan.
Nama Oshibana berasal dari bahasa Jepang, yaitu oshi yang berarti “ditekan” dan bana yang berarti “bunga”. Teknik tersebut memungkinkan bunga dan daun yang telah dikeringkan tetap mempertahankan bentuk serta warna alaminya untuk kemudian dikreasikan menjadi karya seni.
Aktivitas ini tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga membutuhkan ketelitian, fokus dan kesabaran. Peserta ditantang untuk menyusun material tumbuhan secara cermat hingga menghasilkan komposisi yang memiliki nilai estetika.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh peserta Kampung Inggris LC yang mengikuti kelas Oshibana di Gedung Samida, Kebun Raya Bogor, pada 4 Juli 2026. Salah satu peserta, Aurora (15 tahun), mengatakan dirinya tertarik mengikuti kelas tersebut karena memiliki ketertarikan terhadap seni visual dan bunga.
“Saya tertarik sekali dengan kelas ini karena baru pertama kali ikut. Sebenarnya saya juga suka hal-hal seni visual dan estetika bunga, jadi excited saat ikut kelas ini. Setelah mengikuti kelas edukasi ini, saya jadi tahu bagaimana proses menata dan mengawetkan bunga dengan teknik Oshibana,” ujarnya.
Peserta lainnya, Arsyad, melihat kelas tersebut sebagai aktivitas positif untuk melatih fokus dan kreativitas.
“Saya tertarik ikut karena ingin mencari kegiatan positif yang bisa melatih fokus dan kreativitas. Seni Oshibana ini unik dan berbeda dari kerajinan tangan pada umumnya. Setelah mengikuti kelas ini, saya jadi tahu cara membuat Oshibana. Selain itu, manfaat yang paling saya rasakan adalah melatih kesabaran,” tuturnya.
Dari Rekreasi Menuju Pengalaman Edukatif
Pengembangan kelas edukasi menjadi salah satu upaya Kebun Raya Bogor memperluas fungsi ruang konservasi sebagai tempat belajar yang dapat diakses berbagai kelompok masyarakat.
Program tersebut terbuka bagi masyarakat umum, mulai dari anak-anak, keluarga, pelajar, mahasiswa, komunitas hingga kelompok yang ingin melakukan kegiatan edukasi di luar ruang kelas.
Konsep serupa juga dikembangkan di kebun raya lainnya yang dikelola PT Mitra Natura Raya sebagai mitra strategis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Program disesuaikan dengan karakteristik dan potensi masing-masing kebun raya, termasuk koleksi tumbuhan serta lingkungan yang dimiliki.
Melalui pendekatan tersebut, kunjungan ke kebun raya diharapkan tidak berhenti pada aktivitas rekreasi. Setiap kunjungan dapat menjadi kesempatan untuk mengenal keanekaragaman hayati, memahami pentingnya konservasi, sekaligus memperoleh pengalaman baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pada akhirnya, kami ingin masyarakat pulang dari Kebun Raya tidak hanya membawa foto atau hasil karya, tetapi juga membawa pengetahuan dan pengalaman baru tentang tumbuhan. Dengan cara itu, konservasi dapat hadir lebih dekat dalam kehidupan masyarakat,” pungkas Zaenal. (*)






















