Bogor24Update – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) terkait penataan dan pengembangan kawasan Stasiun Bogor.
Penandatanganan MoU tersebut dilaksanakan di Stasiun Bogor Gate Alun-Alun Kota Bogor, Jalan Nyi Raja Permas, Kecamatan Bogor Tengah, Senin, 7 September 2026.
Kerja sama tersebut menjadi langkah awal untuk menyinkronkan rencana penataan kawasan sekitar stasiun dengan program revitalisasi yang telah disiapkan PT KAI.
Wali Kota Bogor, Dedie A.Rachim mengatakan, Pemkot Bogor mempunyai konsep yang sama dengan PT. KAI dalam penataan kawasan Jalan Dewi Sartika, Jalan Nyi Raja Permas, Jalan MA Salmun, hingga Jalan Kapten Muslihat. Karena itu, Pemkot Bogor menyambut baik rencana tersebut.
“Ternyata PT KAI sudah memiliki konsep dan rencana untuk revitalisasi Stasiun Bogor. Ini kami sambut baik. Tinggal nanti kita sinkronkan dengan apa yang sudah kami rencanakan dan apa yang sudah PT KAI laksanakan,” ujar Dedie Rachim, kepada awak media.
Sebagai langkah awal, kata Dedie Rachim, Pemkot Bogor akan memprioritaskan penataan Jalan Nyi Raja Permas hingga menuju ujung Jalan MA Salmun.
“Langkah pertama, Pemerintah Kota Bogor akan melaksanakan penataan Jalan Nyi Raja Permas dulu. Ini akan kita bikin lebih tertib, lebih indah, sampai dengan ujung Jalan MA Salmun,” ucapnya.
“Selanjutnya tahun depan kita akan melaksanakan penataan jalan Mayor Oking dan Jalan Kapten Muslihat,” tambah Dedie Rachim.
Disamping itu, Jalan Dewi Sartika, lanjut ia, manakala kontrak atau Build Operate Transfer (BOT) dengan PT Propindo selesai, pihaknya akan melakukan pemotongan atau pembongkaran.
“Sehingga Jalan Dewi Sartika itu tidak ada obstecle-nya, tidak terhambat oleh bangunan. Jadi dari Alun-alun sampai dengan Jalan Sawojajar itu lurus,” katanya.
Penataan tersebut nantinya akan diselaraskan dengan konsep pengembangan Stasiun Bogor yang diusung PT KAI.
Ditempat yang sama, Direktur Utama PT KAI (Persero), Bobby Rasyidin mengatakan, terdapat tiga konsep utama dalam pengembangan Stasiun Bogor, yakni pengembalian identitas historis stasiun.
“Bagaimana kita mengembalikan identitas dari stasiun ini. Stasiun ini secara historis sangat kuat sekali, dibangun 1881. Ini yang akan menjadi muka stasiun nantinya, jadi stasiun baru itu ada di belakang,” ujar Bobby.
Konsep kedua adalah konektivitas. PT KAI berencana mengintegrasikan Stasiun Bogor dengan Stasiun Paledang yang lokasinya berdekatan. “Itu nanti akan kita integrasikan. Jadi akan ada seamless integration, karena sekarang itu seolah-olah ada dua stasiun,” ucapnya.
Selain integrasi antarstasiun, PT KAI juga akan memperkuat konektivitas dengan berbagai moda transportasi lain.
“Kemudian juga akan connectivity dengan moda angkutan yang lainnya. Jadi intermodanya kita lihat juga, bagaimana kita nanti menjadikan ini pusat intermoda. Di situ ada Trans Pakuan, kemudian ada angkutan daring juga. Dan angkutan-angkutan yang lain, bahkan diskusi dengan Pak Wali juga bagaimana kita menghadirkan apakah konsepnya LRT perkotaan atau trem perkotaan. Nanti terintegrasinya semuanya di sini,” ungkapnya.
Konsep ketiga adalah pengembangan fasilitas. Revitalisasi tidak hanya diarahkan untuk menciptakan ruang terbuka, tetapi juga ruang usaha dan kegiatan ekonomi melalui konsep Transit Oriented Development (TOD).
“Selama tiga bulan kemarin sudah selesai Peron 6, 7 dan 8. Ini sudah kita buka lagi sehingga sekarang Peron 6, 7 dan 8 sudah panjang dan sudah ada kanopinya. Ini bisa menambah kapasitas angkut 30 persen harian daripada sebelumnya. Kita lihat juga sekarang ada peron 4 dan 5 kita tutup untuk penambahan kanopi, karena nanti untuk menghindari supaya para pelanggan atau pengguna tidak akan kehujanan,” ungkapnya.
“Berikutnya lagi itu ada level crossing yang ada di dalam stasiun yang ada didalam emplasemen itu nanti akan kita naikan. Jadi nanti akan kita pasang tambahan eskalator sama lift ke concourse yang ada di selatan. Sehingga nanti semua perpindahan dari peron satu ke peron 6,7,8 itu lewat atas nantinya,” sambungnya.
Lebih lanjut, Bobby menjelaskan, pada awal tahun depan, PT KAI juga akan melakukan penataan kawasan bagian selatan Stasiun Bogor yang direncanakan menjadi area pick-up dan drop-off bagi angkutan kota Bogor.
“Ini merupakan program pengembangan KRL sendiri, di mana dalam program besarnya nanti KRL sampai ke Sukabumi. Kemarin kan sudah ada jalur ganda sampai dengan Stasiun Cigombong. Jadi program 2027 kami itu akan melakukan elektrifikasi sampai ke Stasiun Cigombong,” tutupnya. (*)





















