Bogor24Update – Berawal dari kecintaan terhadap seni dan budaya, Batikayudewi hadir sebagai salah satu UMKM di Kota Bogor yang mengembangkan batik tulis pada media kayu.
Galeri yang berlokasi di Jalan Pembangunan RT 03 RW 05 No. 23A, Kelurahan Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara ini memproduksi berbagai karya batik kayu dengan sentuhan klasik, tradisional hingga kontemporer.
Marketing Batikayudewi, Catur Wawan Prasetyono menceritakan, Batikayudewi berdiri di Bogor pada 2022. Usaha tersebut tercetus dari sang istri, Dewi Indah Prasetyowati, pemilik Batikayudewi yang merupakan lulusan ISI Yogyakarta.
“Dulu tahun 1999 sampai 2005 kita membuat usaha batik kayu di Yogyakarta akhirnya kita coba diusung ke Bogor,” ucap Catur saat ditemui di galeri Batikayudewi, Jumat, 4 September 2026.
Catur menjelaskan, keputusan membawa usahanya ke Bogor dilatarbelakangi keinginan untuk memperkenalkan seni budaya batik melalui media kayu.
“Kenapa kita ingin membuat Batikayudewi, karena kita merasa di Bogor belum ada. Itulah yang menjadi kekuatan kita untuk mencoba mengenalkan seni budaya melalui batik kayu,” katanya.
Dalam proses pembuatan, Batikayudewi menggunakan beberapa jenis kayu, seperti sengon, mahoni, jati, dan jinitri. Sedangkan untuk pewarnaan, digunakan pewarna yang biasa dipakai dalam proses membatik, yaitu naptol yang dapat digunakan pada kain maupun media kayu.
Menurut ia, semua jenis kayu dapat digunakan sebagai media batik, tetapi tidak semuanya dapat menghasilkan warna sesuai dengan yang diinginkan.
“Semua kayu itu bisa dibatik, tapi tidak semua kayu bisa diwarnai sesuai keinginan kita. Jadi hanya kayu-kayu tertentu selama ini kita gunakan, seperti jinitri, jati, sengon, dan mahoni,” tuturnya.
Ia menyebut, bahan kayu yang digunakan hingga saat ini sebagian masih didatangkan dari Yogyakarta. “Jadi apa yang kita inginkan seperti bentuk apa, kita tinggal mengonfirmasi kesana dan mereka membuatkan lalu dikirim,” beber Catur.
Selain itu, Batikayudewi tidak hanya berfokus pada produksi, edukasi dan workshop membatik di media kayu justru menjadi salah satu penopang utama usaha tersebut.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, awal mula edukasi itu ketika sejumlah tamu dari luar negeri berkunjung dan tertarik melihat produk Batikayudewi. Mereka kemudian mencoba langsung membuat batik pada media kayu.
“Pada awalnya Batikayudewi ini ingin memproduksi. Tapi ada beberapa tamu dari luar negeri kebetulan waktu itu datang ke sini, melihat produk dan ingin mencoba. Nah, terbersitlah kita untuk membuat edukasi, dan ternyata itu sekarang edukasi ini jadi penopang utama produksi,” ungkapnya.
Selama sekitar empat tahun terakhir, Batikayudewi juga kerap mendapat undangan untuk mengadakan workshop batik kayu di berbagai tempat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan batik kayu kepada masyarakat yang lebih luas.
Di Batikayudewi ini, sang istri berfokus pada proses produksi mulai dari mendesain sekaligus mengerjakan sendiri berbagai karya batik kayu. Sementara sang suami lebih banyak menangani kegiatan edukasi dan pemasaran.
“Jadi kalau produksi kebetulan istri saya sendiri, beliau yang mendisain segala macamnya dan mengerjakan sendiri. Kalau saya sendiri, saya lebih ke edukasi dan marketingnya,” ungkapnya.
Dalam proses membatik pada media kayu, ia mengungkapkan, salah satu tantangannya adalah pewarnaan.
“Ada beberapa warna yang memang harus dikerjakan di tempat yang terang harus terkena matahari itu lah kesulitannya,” jelas Catur.
Ia menyebut, untuk lama pengerjaan tergantung pada ukuran dan tingkat kesulitan media kayu yang digunakan. Untuk kegiatan edukasi, peserta biasanya sudah dapat menyelesaikan karya dalam waktu sekitar 30 menit.
“Tingkat kesulitannya tergantung dari media, kalau untuk produksi yang kecil-kecil bu Dewi bisa lebih cepat tapi kalau untuk yang besar kita butuh waktu,” jelasnya.
Untuk harga dari produk Batikayudewi, kata ia, cukup beragam dan relatif terjangkau, mulai dari Rp10 ribu hingga 250 ribu.
“Batik kayu ini tidak terlalu mahal, kita jual prodak paling kecil itu gantungan kunci dengan harga 10 ribu harus hingga yang paling besar itu di atas 250 ribu seperti topeng, talenan,” katanya.
Galeri Batikayudewi buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Namun, galeri dapat tutup apabila pemilik sedang menjalankan kegiatan workshop di luar lokasi.
“Kami bisa personal satu orangpun kami terima untuk dateng ketempat kami, tapi kalau kami diundang, minimal order untuk workshop kalau untuk didalam kota bogor minimal 10 orang, kalau diluar kota 20 sampai 25 orang peserta, harga sesuai paket ditambah transportasi,” tutupnya. (*)




















