Bogor24Update – Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, menyimpan berbagai macam tantangan di wilayah, mulai dari pengelolaan sampah, potensi banjir akibat dampak pembangunan properti, hingga degradasi lahan pertanian lokal. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Lurah Kencana, Heri Agus Suherman pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Heri Agus mengatakan, sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Kayu Manis dan Cilebut Barat (Kabupaten Bogor), Kelurahan Kencana dinilai sangat strategis untuk mendukung pengoperasian Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) skala besar pengolahan di Kayu Manis.
”Dilihat dari jumlah penduduk yang mencapai 23.190 jiwa, ini sangat potensial menghasilkan sampah. Untuk satu RW saja bisa menghasilkan 4 hingga 5 ton sampah per hari. Namun, armada pengangkut di tempat kami sangat terbatas, dari kebutuhan ideal minimal 5 dam truck, saat ini kendaraan yang beroperasi hanya ada 1 unit,” ujar Heri Agus kepada wartawan.
Ia berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dapat segera memperbaiki infrastruktur pendukung pengangkutan dan pengolahan sampah agar integrasi antarwilayah penyangga dapat berjalan optimal.
Selain masalah kebersihan, pesatnya pembangunan perumahan di Kelurahan Kencana membawa dampak ganda. Di satu sisi meningkatkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan pendapatan daerah, tetapi di sisi lain memicu kerusakan ekologi.
Penyempitan alur sungai dan tergerusnya batas wilayah kerap menyebabkan luapan air, terutama aliran yang datang dari Kelurahan Cibadak dan wilayah Kabupaten Bogor.
”Pembangunan properti memicu kerusakan lingkungan seperti banjir dan longsor yang merugikan warga, khususnya di RW 4, 5, 6, dan 9. Luapan air sering terjadi karena benturan arus sungai di batas wilayah kota dan kabupaten. Solusinya, Pemkot Bogor perlu membangun kolam retensi sebagai penampung dan pengendali banjir,” jelasnya.
Selain itu, Heri juga mendorong perbaikan Penerangan Jalan Umum (PJU), penambahan trayek angkutan umum, hingga penyediaan pos keamanan di titik-titik rawan aksi kejahatan dan tawuran, mengingat Kelurahan Kencana merupakan kawasan transit strategis penghubung Jalan Baru dan Cilebut.
Sedangkankan Di sektor ekonomi dan sosial, Lurah Kencana menyayangkan mulai menyusutnya lahan talas akibat tergerus pembangunan permukiman. Padahal, talas lokal Kencana berpotensi disuplai ke industri olahan modern, seperti pembuatan bolu talas khas Bogor.
”Kami berharap ada intervensi dari Pemkot Bogor untuk membantu para petani lokal melestarikan budidaya talas. Jika dikelola secara modern, ini bisa mendongkrak perekonomian warga sekaligus memelihara identitas lokal,” katanya.
Heri juga mengapresiasi tingginya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah Kencana yang banyak melahirkan tokoh dan guru agama. Kehadiran para tokoh agama ini diharapkan mampu menjaga benteng akhlak dan nilai budaya masyarakat di tengah arus modernisasi. (*)





















