Cianjur24update — Dari hamparan pesisir Pantai Lugina hingga dinginnya ketinggian Gunung Pangrango, tujuh atlet menantang batas fisik dan mental dalam sebuah ekspedisi lari ekstrem melintasi Cianjur.
Menempuh jarak lebih dari 200 kilometer dengan perubahan ketinggian dari 0 hingga 3.019 meter di atas permukaan laut (MDPL), perjalanan tersebut berlangsung selama enam hari dan melewati beragam karakter medan.
Ekspedisi yang diinisiasi relawan Gede Pangrango Operation (GPO) bersama Montana Redwad Rimba ini tak sekadar menguji kemampuan para pelari.
Mereka juga membawa misi mengenalkan potensi wisata alam Cianjur sekaligus mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan.
Ketua Panitia Ekspedisi, Muhammad Zuhron, mengatakan perjalanan dibagi dalam sejumlah etape dengan jarak rata-rata sekitar 50 kilometer per hari.
“Rangkaiannya mulai dari titik 0 MDPL di Pantai Lugina sampai ke puncak Pangrango. Total ada enam hari, dengan satu hari khusus recovery. Setelah itu lanjut menuju Gunung Gede, Pangrango, dan berakhir turun di Cibodas,” ujar Zuhron, Senin 7 September 2026.
Menembus Medan dan Cuaca Ekstrem
Pada hari keempat, tim bergerak dari kawasan situs bersejarah Gunung Padang menuju Gunung Putri sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan pegunungan.
Perubahan medan dan kondisi cuaca menjadi tantangan utama yang harus dihadapi para atlet selama ekspedisi.
Namun, perjalanan tersebut tidak hanya berorientasi pada olahraga. Tim juga melakukan sejumlah kegiatan pelestarian lingkungan, mulai dari penanaman mangrove di kawasan pesisir Pantai Lugina hingga aksi bersih-bersih sampah atau operasi bersih (opsih) di sepanjang kawasan pantai dan jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango.
Promosikan Wisata Cianjur Selatan
Muhammad Zuhron berharap ekspedisi ini dapat membuka perhatian lebih luas terhadap potensi wisata Cianjur, khususnya kawasan selatan yang selama ini belum banyak tereksplorasi.
“Cianjur bukan cuma Gunung Gede dan Pangrango, tapi ada pantai selatan yang eksotis dan jarang tersentuh,” tambahnya.
Salah satu atlet, Tanju Arifin, mengatakan seluruh peserta telah menjalani latihan intensif serta dua kali simulasi sebelum ekspedisi dimulai.
Menurutnya, kondisi medan dan cuaca ekstrem menjadi tantangan paling berat selama perjalanan.
“Tantangan terberat ada di medan dan cuaca ekstrem. Namun berkat support dan koordinasi tim, semua berjalan lancar dan selamat,” kata Tanju.
Ekspedisi lari ekstrem tersebut turut mendapat dukungan dari Perum Perhutani dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Selain menjadi tantangan olahraga, ekspedisi ini diharapkan dapat menjadi cara baru untuk memperkenalkan kekayaan alam Cianjur, mulai dari pesisir selatan hingga kawasan pegunungan.
Menurut saya, lead ini lebih kuat karena pembaca langsung diajak membayangkan perjalanan dari pantai ke gunung, bukan langsung disuguhi informasi jumlah peserta. (*)




















