Cianjur24Update – Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Dr. Pipit Rismanto, meresmikan Tugu Knalpot Ayam Pelung di Jalan Dr. Muwardi, Kelurahan Muka, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, pada Rabu, 16 September 2026.
Peresmian monumen unik ini dihadiri oleh jajaran Pejabat Utama (PJU) Polda Jabar, PJU Polres Cianjur, Wakil Bupati Cianjur Aby Ramzi, serta unsur Forkopimda Kabupaten Cianjur.
Tugu tersebut dihadirkan sebagai simbol pengingat sekaligus sarana edukasi publik mengenai fenomena kenakalan remaja, khususnya penggunaan knalpot brong.
Dalam sambutannya, Kapolda Jabar menyinggung fenomena penggunaan knalpot brong di kalangan sebagian remaja.
Menurutnya, perilaku tersebut dapat menjadi salah satu bentuk upaya remaja mendapatkan perhatian dan pengakuan dari lingkungan.
“Monumen ini juga bagian daripada perilaku menyimpang yang dilakukan oleh adik-adik remaja kita untuk mendapatkan pengakuan kehebatannya,” ujar Pipit.
Pipit mengatakan, sebagian remaja menggunakan suara knalpot yang keras untuk mencari perhatian.
“Karena kurang perhatian tadi. Kita yang generasi lebih tua tidak suka memperhatikan mereka, maka yang terjadi dia nyari perhatiannya dengan menggeblar-geblarkan suara,” katanya.
Ia juga menyinggung faktor keluarga yang dapat berkaitan dengan perilaku remaja. Namun, menurut Pipit, berbagai faktor yang memengaruhi perilaku menyimpang perlu diteliti lebih lanjut.
Pipit menegaskan, penanganan persoalan kenakalan remaja bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian. Menurutnya, orang tua, guru, pemerintah, dan lingkungan masyarakat memiliki peran masing-masing.
“Yang pertama adalah peran orang tua itu penting, yang kedua peran guru di sekolah, yang ketiga adalah peran kita sebagai pemerintah, yang keempat adalah peran lingkungan,” ujarnya.
Menurut Pipit, lingkungan tersebut mencakup tokoh pemuda, ulama, tokoh masyarakat, dan berbagai unsur lainnya yang dapat memberikan teladan kepada generasi muda.
Kapolda juga mendorong persoalan kenakalan remaja dikaji melalui pendekatan kriminologis untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakanginya.
“Tidak ada sebuah kejahatan itu berdiri sendiri. Pasti ada faktor-faktor yang memengaruhi,” kata Pipit.
Ia mendorong penelitian akademis untuk menggali akar persoalan sosial di masyarakat sehingga dapat menjadi dasar dalam menentukan bentuk intervensi yang tepat.
Selain itu, Pipit menekankan pentingnya kemampuan kepolisian beradaptasi dengan perubahan karakter generasi, termasuk generasi milenial, Gen Z, hingga generasi Alpha.
“Prinsip kerja kami di antaranya adaptif. Kita harus mampu menyesuaikan diri kapan pun, di mana pun, kepada siapa pun, dan dalam situasi apa pun,” ujarnya.
Pipit juga menekankan prinsip responsif dalam pelaksanaan tugas kepolisian. Setiap persoalan yang muncul di masyarakat, kata dia, harus direspons secara cepat, tepat, dan berkualitas.
Peresmian Tugu Knalpot Ayam Pelung tersebut menjadi bagian dari upaya mengingatkan berbagai pihak mengenai pentingnya peran keluarga, sekolah, pemerintah, kepolisian, dan lingkungan dalam menghadapi persoalan perilaku remaja. (*)






















